Detail Berita


  • 12 September 2023
  • 1.996
  • Berita

Evaluasi Skrining TBC pada Penyandang DM: Upaya Meningkatkan Capaian dalam Penanggulangan Tuberkulosis

Yogyakarta, 11 September 2023 - Sebagai bagian dari upaya dalam menanggulangi Tuberkulosis (TBC) pada penyandang Diabetes Melitus (DM), Dinkes DIY DIY mengadakan kegiatan evaluasi yang dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom. Kegiatan yang berlangsung dari pukul 12.30 hingga 14.30 ini merupakan langkah penting dalam merespons isu kesehatan yang cukup serius di Kabupaten Bantul dan Sleman. Kegiatan ini dipandu oleh Wasor TBC DIY Suharna, SKM, MPH.

Peserta yang hadir dalam evaluasi ini berasal dari Kabupaten Sleman dan Bantul yaitu Pengelola Program TBC, seperti Wasor TBC, TO TBC, dan FE PPM. Selain itu, ada juga Programmer TBC dari Rumah Sakit dan Puskesmas yang turut berpartisipasi dalam forum ini.

Evaluasi ini sebagian besar didasarkan pada Surat Standar Prosedur Operasional (SPO) Skrining Tuberkulosis pada Penyandang Diabetes Melitus dengan Metode Radiologis yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tanggal 21 April 2021. SPO ini akan menjadi panduan penting dalam pelaksanaan skrining TBC di 38 kabupaten/kota yang menjadi sasaran program ini.

Sejauh ini, hasil pelaksanaan skrining TBC pada penyandang DM di tahun 2021 dan 2022 belum mencapai target yang diharapkan. Tahun 2021 hanya mencapai 4% dari target 100%, sedangkan tahun 2022 hanya mencapai 2%. Hal ini menjadi perhatian serius dalam upaya meningkatkan capaian dalam pencegahan dan penanggulangan TBC.

Salah satu langkah yang diambil untuk meningkatkan capaian adalah dengan melakukan update terhadap SPO yang relevan. Beberapa perubahan dalam SPO ini akan mulai diterapkan mulai bulan November 2023. Beberapa perubahan tersebut mencakup:

1. Tempat Pelaksanaan Skrining: Pelaksanaan skrining TBC dapat dilakukan di berbagai tempat, termasuk rumah sakit pemerintah pusat/daerah/swasta, puskesmas, klinik, dan laboratorium pemerintah/swasta yang memberikan pelayanan radiologi.

2. Besaran Tarif Pemeriksaan: Ada penyesuaian besaran tarif pemeriksaan foto toraks dalam SPO ini, sehingga diharapkan akan lebih memudahkan akses bagi penyandang DM untuk menjalani skrining.

3. Peningkatan Fungsi Aplikasi Bantu Skrining TBC DM: Aplikasi Bantu Skrining TBC DM kini memiliki penambahan fungsi dan kewenangan yang lebih jelas di puskesmas, klinik, dan laboratorium yang memberikan pelayanan radiologi. Aplikasi ini dapat diakses melalui link http://tbdm.sitb.id/tbdm/login.php.

Selain perubahan SPO, sebagai rencana tindak lanjut kegiatan Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul dan Sleman akan melakukan sejumlah langkah strategis. Pertama, mereka akan memetakan puskesmas yang memilih merujuk pasien DM ke rumah sakit dan puskesmas yang memilih mengumpulkan pasien DM untuk didatangi mobil rontgen. Ini akan membantu dalam penyebaran pemeriksaan secara lebih efisien.

Kedua, Dinkes Bantul dan Sleman menyusun jadwal puskesmas untuk didatangi oleh mobil rontgen, sehingga dapat memaksimalkan cakupan skrining. Terakhir, mereka juga akan menyusun jejaring Rumah Sakit rujukan rontgen bagi puskesmas, yang akan menjadi langkah penting dalam mendukung proses skrining.

Adapun tenggat waktu untuk implementasi langkah-langkah ini adalah tanggal 22 September untuk Sleman dan 29 September untuk Bantul. Selain itu, MOU dengan Rumah Sakit juga harus segera dituntaskan, dengan tenggat waktu maksimal tanggal 22 September di Sleman dan sudah final di Bantul. MOU dengan puskesmas di Bantul harus tuntas paling lambat tanggal 29 September.

Semua langkah ini diharapkan dapat membantu peningkatan capaian skrining TBC pada penyandang DM di Kabupaten Bantul dan Sleman. Upaya bersama dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, puskesmas, rumah sakit, dan para penyandang DM, sangat dibutuhkan untuk mencapai target yang akan ditetapkan dalam upaya pencegahan dan penanggulangan TBC.

Sebagai sebuah penyakit menular yang masih menjadi masalah serius kesehatan global, penanganan TBC membutuhkan kolaborasi yang erat dan upaya yang berkelanjutan. Dengan evaluasi ini dan langkah-langkah perbaikan yang diambil, diharapkan Kabupaten Bantul dan Sleman dapat menjadi contoh dalam penanggulangan TBC pada penyandang Diabetes Melitus. Dengan demikian, keselamatan dan kesehatan masyarakat akan semakin terjamin. (Kontributor Edwin Daru Anggara/TO PPM DIY)

Kontak Kami

JL. Gondosuli No.6 Yogyakarta Kota Yogyakarta DIY 55231 Indonesia
dinkes@jogjaprov.go.id
+62274563153
(0274)512368

Kunjungan

  • Hari Ini

  • 2.043
  • Bulan Ini

  • 1.728.429
  • Total Kunjungan

  • 21.966.908