SKI 2023: Prevalensi Stunting Indonesia dan di Daerah Istimewa Yogyakarta
Salah satu permasalahan gizi yang menjadi fokus global adalah mengatasi stunting pada balita, yang merupakan kondisi kronis akibat kekurangan gizi pada masa pertumbuhan awal dan berpotensi mempengaruhi perkembangan fisik dan kognitif anak hingga dewasa. Menurut WHO (2020) stunting adalah kondisi pendek atau sangat pendek berdasarkan panjang / tinggi badan menurut usia yang kurang dari -2 standar deviasi (SD) pada kurva pertumbuhan WHO yang terjadi dikarenakan kondisi irreversibel akibat asupan nutrisi yang tidak adekuat dan/atau infeksi berulang / kronis yang terjadi dalam 1000 HPK.
Prevalensi stunting menurut hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mengalami penurunan dari 21,6% (SSGI 2022) menjadi 21,5%. Penurunan prevalensi stunting ini berturut-turut terjadi selama 10 tahun terakhir (2013-2023). Meskipun demikian angka tersebut masih belum memenuhi target RPJMN 2020-2024 sebesar 14% pada tahun 2024 dan standar WHO dibawah 20%. Dari 38 provinsi di Indonesia, sebanyak 15 provinsi memiliki prevalensi stunting di bawah angka nasional. Tiga provinsi dengan prevalensi stunting tertinggi adalah Papua Tengah (39,4%), Nusa Tenggara Timur (37,9%) dan Papua Pegunungan (37,3%). Sedangkan tiga provinsi yang telah mencapai target RPJMN 2024 yaitu Bali (7,2%), Jambi (13,5%) dan Riau (13,6%).
Provinsi D.I. Yogyakarta mengalami kenaikan pada prevalensi stunting sebesar 1,6% dari 16,4% di tahun 2022 menjadi 18,0% di tahun 2023. Kunjungan neonatal (KN) di D.I. Yogyakarta berada diatas angka rata-rata nasional yaitu 58,1%, namun termasuk kedalam 17 besar provinsi dengan prevalensi BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah) diatas atau sama dengan rerata nasional.
SKI 2023 menyebutkan bahwa faktor penyebab stunting adalah kesehatan ibu dan bayi dan faktor rumah tangga. Kesehatan ibu kategorikan pada periode prenatal dan periode kelahiran hingga postnatal, terutama Bumil risiko KEK dan pemeriksaan kehamilan (K4). Dibandingkan dengan hasil Riskesdas tahun 2018, proporsi Bumil risiko KEK menurun dari 17,3% menjadi 16,9%, pun pemeriksaan kehamilan (K4) menurun dari 74,1% menjadi 68,1%. Namun dibanding tahun 2022, mengalami peningkatan dari 8,7% (Ditjen Kesmas 2022) menjadi 16,9% sedangkan pemeriksaan kehamilan (K4) terus menurun dari 86,2% (Profil Kesehatan Indonesia 2022) menjadi 68,1%. Kedua faktor ini merupakan determinan status gizi sebelum bayi lahir yang perlu mendapat perhatian. ASI Eksklusif juga berperan pada kejadian stunting, data SKI 2023 menunjukkan sebesar 68,6% bayi mendapat ASI Eksklusif.Selain itu faktor lainnya yang berperan yaitu faktor rumah tangga dengan akses higiene dasar 78,9%.
Secara jangka panjang, anak-anak yang mengalami stunting akan memiliki kerentanan yang lebih tinggi terhadap penyakit tidak menular (PTM) di masa dewasa, seperti obesitas, hipertensi, diabetes hingga kanker. Hal ini dapat mempengaruhi produktivitas, potensi pendapatan dan keterampilan sosial di kemudian hari. Dampak tersebut akan menjadi beban negara dan meningkatkan potensi kerugian ekonomi yang besar.
Adapun rekomendasi WHO dalam penanggulangan stunting:
-
Meningkatkan pengenalan, pengukuran dan pemahaman tentang stunting serta memperluas cakupan kegiatan pencegahan stunting
-
Mengembangkan kebijakan dan/atau meningkatkan intervensi untuk memperbaiki gizi dan kesehatan ibu dimulai dari anak perempuan
-
Melakukan intervensi untuk meningkatkan pemberian ASI eksklusif dan praktik pemberian makanan makanan pendamping ASI
-
Memperkuat intervensi berbasis masyarakat, termasuk meningkatkan air, sanitasi dan kebersihan (WASH)
Referensi:
Kemenkes RI. 2019. Riset Kesehatan Dasar 2018. Jakarta: Kemenkes RI.
Ditjen Kesmas. 2022. Laporan Rutin Tahun 2022. Jakarta: Kemenkes RI
Kemenkes RI. 2022. Mengenal Apa Itu Stunting. (Available at: https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1388/mengenal-apa-itu-stunting)
Kemenkes RI. 2023. Mengenal Lebih Jauh tentang Stunting. (Available at: https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/2657/mengenal-lebih-jauh-tentang%20stunting)
Kemenkes RI. 2023. Buku Saku Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022. Jakarta: Kemenkes RI
Kemenkes RI. 2024. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 Tematik. Jakarta: Kemenkes RI
Penulis:
Rina Chomawati
(Mahasiswa Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Gadjah Mada)