Detail Artikel


  • 28 Februari 2021
  • 1.318
  • Artikel

Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Penanggulangan TBC

Pandemi Covid-19 di Indonesia terjadi sejak bulan Maret 2020 dan hingga saat ini belum menunjukkan pemulihan yang cepat. Berbagai upaya sudah dilakukan pemerintah secara multisektoral untuk mengatasi pandemi tersebut, namun sampai akhir tahun 2020 tren kasus harian Covid-19 di tingkat nasional maupun DIY masih cenderung naik. Dampak dari pandemi Covid-19 sangat luas meliputi dampak ekonomi, sosial, budaya, maupun dampak di bidang kesehatan sendiri. Salah satu dampak di bidang kesehatan adalah terhadap program pengendalian Tuberkulosis (TBC).

            Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 67 tahun 2016 tentang Penanggulangan Tuberkulosis menyebutkan indikator utama program pengendalian TBC di Indonesia diantaranya adalah cakupan penemuan dan pengobatan semua kasus TBC (case detection rate/CDR) dan angka keberhasilan pengobatan semua kasus TBC (treatment success rate/TSR). Dampak pandemi Covid-19 terhadap pelaksanaan program pengendalian TBC nasional terlihat pada capaian kedua indikator program tersebut yang menunjukkan penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Berdasarkan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) online tanggal 27 Februari 2020, CDR kasus TBC di Indonesia hanya sebesar 41,7% dan TSR sebesar 82%. Sedangkan pada tahun 2019, CDR kasus TBC di Indonesia sebesar 67% dan TSR TBC sebesar 83%. Artinya terjadi penurunan penemuan kasus sebesar 25,3% dan penurunan angka keberhasilan pengobatan sebesar 1%. Bagaimana dengan angka di Daerah Istimewa Yogyakarta?

            Data pada SITB online DIY pada tanggal 27 Februari 2021 menunjukkan bahwa CDR kasus TBC di DIY hanya sebesar 31,4% dan TSR sebesar 86,4%. Sedangkan pada tahun 2019, CDR kasus TBC di DIY sebesar 44% dan TSR TBC sebesar 84,2%. Artinya di DIY terjadi penurunan penemuan kasus sebesar 13% tetapi angka keberhasilan pengobatan meningkat sebesar 2,2%. Hal ini menunjukkan bahwa pasien TBC yang sudah ditemukan tetap bisa menjalani pengobatan dengan baik sampai selesai dan tidak banyak pasien yang mengalami drop out (DO) akibat pandemi Covid-19. Perbandingan CDR kasus TBC di 34 provinsi dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Case Detection Rate/ CDR Kasus TBC di 34 Provinsi Tahun 2020

 

            Pandemi Covid-19 telah menyebabkan angka penemuan kasus TBC menurun di semua provinsi di Indonesia. Besarnya penurunan setiap provinsi sangat bervariasi antara 8,4% - 48,4%, secara nasional mengalami penurunan sebesar 25,3%, sedangkan D.I.Yogyakarta mengalami penurunan sebesar 12,7%. Perbandingan CDR tahun 2019 dan 2020 dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Perbandingan Case Detection Rate/ CDR Kasus TBC di 34 Provinsi

tahun 2019 dan 2020

            Upaya yang sudah dilakukan oleh Dinas Kesehatan DIY bersama Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota untuk menekan laju penurunan penemuan kasus TBC selama masa pandemi Covid-19 di D.I. Yogyakarta antara lain:

  1. Meningkatkan penggunaan alat tes cepat molekuler (TCM) sebagai pengganti pemeriksaan mikroskopis untuk menegakkan diagnosis TBC di fasyankes
  2. Meningkatkan skrining suspek TBC menggunakan mobile X-ray di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Kulonprogo bekerja sama dengan kegiatan Zero TB Yogya - FKKMK UGM
  3. Mengujicoba model investigasi kontak pasien TBC secara virtual (online) bekerjasama dengan ‘Aisyiyah D.I. Yogyakarta
  4. Melakukan pendampingan kepada fasyankes dalam melakukan pencatatan dan pelaporan kasus TBC yang diobati ke dalam SITB online.

Kontak Kami

JL. Gondosuli No.6 Yogyakarta Kota Yogyakarta DIY 55231 Indonesia
dinkes@jogjaprov.go.id
+62274563153
(0274)512368

Kunjungan

  • Hari Ini

  • 7.625
  • Bulan Ini

  • 617.886
  • Total Kunjungan

  • 4.114.976