Detail Artikel


  • 30 November 2020
  • 885
  • Artikel

Ayo Gawe Jogja Ijo

Kasus Covid-19 di DIY melonjak. Total kasus terkonfirmasi positif  sampai dengan (22/11) menjadi 5137. Sepanjang bulan November ini penambahan kasus positif menunjukkan tren peningkatan yang cukup signifikan. Rekor penambahan kasus sebanyak 168 terjadi pada (5/11). Sempat turun di angka 7 pada (15/11),  namun enam hari berikutnya kembali naik lagi dengan penambahan per hari masing-masing 67, 90, 153, 108, 68, 56 dan 77 kasus. Dampak dari eskalasi perkembangan terlihat khususnya dalam berbagai penanganan paska penemuan konfirmasi.

Pedoman penanganan Covid-19 revisi kelima  yang diterbitkan oleh Kementrian Kesehatan, menyebutkan bahwa penanganan bagi orang yang terkonfirmasi positif tanpa gejala (orang tanpa gejala/OTG) dapat dilakukan dengan isolasi mandiri di rumah. Isolasi dimaknai sebagai disiplin ketat dan pemantauan oleh tenaga kesehatan. Namun demikian, banyak kekhawatiran muncul mengingat tidak semua pasien OTG tersebut memiliki dukungan lingkungan yang memadai karena berbagai sebab seperti keterbatasan tempat tinggal yang menyulitkan untuk isolasi. Hal inilah yang mendorong kebijakan di Daerah dengan membuka shelter karantina bagi warganya yang  OTG.

Dampak eskalasi perkembangan Covid-19 terhadap shelter karantina nampak nyata terlihat, salah  satu diantaranya adalah penuhnya hunian shelter karantina di Kabupaten Sleman. Dua shelter yang dipersiapkan oleh Gugus Tugas Kabupaten Sleman yaitu Asrama Haji dan Rusunawa Gemawang tidak lagi mampu menampung pasien hingga tanggal 30 November 2020.

Tiga periode survei pada bulan Juni, Agustus dan Oktober 2020  tentang kepatuhan protokol kesehatan Covid-19 oleh Dinas Kesehatan DIY melibatkan 3.400 responden, menemukan beberapa fakta menarik. Kepatuhan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan 3M (memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak) tetap tinggi dan terlihat dapat dipertahankan (82% baik) sebagaimana hasil ke-3 periode survei. Namun demikian, tingkat kepercayaan terhadap Pandemi Covid-19 sebagai hal yang serius mengalami penurunan signifikan dan dalam dua periode survei terakhir menurun hingga 8%.

Terlepas dari perbedaan kebijakan dalam penerapan shelter karantina antar wilayah, hasil survey telah menunjukkan perlunya perhatian semua pihak dalam penanganan Covid-19 di DIY. Fakta lain yang menarik, sebagian besar responden menilai bahwa pasien terkonfirmasi positif covid-19 tanpa gejala (OTG) setuju untuk diberlakukannya isolasi mandiri di rumah dengan protokol kesehatan dan pengawasan petugas kesehatan. Sebanyaj 68,5% responden menyatakan setuju, 30%  menyatakan lebih setuju untuk dirawat di RS atau shelter karantina dan 1,5% memilih tidak berpendapat. Hasil ini dapat dipetik sebagai catatan dalam upaya antisipasi menghindari melubernya penghuni shleter karantina. Meskipun demikian pemberlakuan isolasi mandiri di rumah juga menjadi tantangan besar bagi semua pihak untuk dapat menjaga agar tidak terjadi penularan di lingkungan rumah tangga.

Melihat dari kajian tersebut maka tantangan yang muncul adalah bagaimana membangun kekuatan dari potensi-potensi di lapisan paling bawah dalam menjaga orang-orang yang telah di vonis konfirmasi positif dalam menjalankan isolasi mandiri. Potensi kekuatan di lapisan terbawah didukung oleh elemen perangkat RT/RW/Dusun dan desa dapat menjadi kunci agar supaya permasalahan over capacity shelter karantina dapat dihindari namun isolasi mandiri tetap dapat dijalankan dengan sebaik-baiknya.

Membangunkan semangat gotong royong untuk menjaga diri, keluarga dan lingkungan adalah dengan mencegah wilayahnya dari paparan Covid-19 dan atau jika terjadi kasus tidak menjadi klaster baru.  Analogi zonasi yang diberlakukan oleh BNPB dapat digunakan sebagai indikasi sederhana tingkat bahaya penularan di suatu wilayah dengan mengajak untuk membuat wilayahnya masuk Zona Hijau (tanpa risiko penularan). “Ayo Gawe Jogja Ijo” bisa menjadi diksi himbauan dengan pendekatan kultural yang dimiliki masyarakat Jogja menjangkau lapisan masyarakat di tingkat RT/RW, padukuhan dan Desa/Kalurahan. Wujud konkret akan tampak budaya saling mengingatkan tanpa ewuh pakewuh dalam penerapan protokol kesehatan. Jika budaya tersebut juga dijalankan oleh para pelaku usaha, pelaku wisata, seniman, pendidik, tokoh masyarakat dan tokoh agama maka kesadaran kolektif “Ayo gawe Jogja ijo” menjadi sangat istimewa.

M. Agus Priyanto SKM MKes, Kepala Seksi Promosi Kesehatan

dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan DIY

 

Muchamad Hardoko SKM MARS,

Staf Subbag Program Dinas Kesehatan DIY

Kontak Kami

JL. Gondosuli No.6 Yogyakarta Kota Yogyakarta DIY 55231 Indonesia
dinkes@jogjaprov.go.id
+62274563153
(0274)512368

Kunjungan

  • Hari Ini

  • 7.008
  • Bulan Ini

  • 617.886
  • Total Kunjungan

  • 4.114.359