Detail Berita


  • 01 September 2020
  • 87
  • Berita

Memotret Kepatuhan Masyarakat dan Komunikasi Risiko COVID-19 di DIY

Kajian terhadap kepatuhan menjadi aspek penting dalam pengendalian COVID-19. Perkembangan transmisi tidak terlepas dari baik-buruknya tingkat kepatuhan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan. Bulan Mei 2020, satu bulan setelah kasus pertama dilaporkan di DIY, telah diprakarsai upaya memotret gambar kepatuhan masyarakat tersebut melalui kegiatan Telesurvei. Kegiatan dilaksanakan oleh Pemda DIY secara periodik, dan memasuki Bulan Agustus 2020 telah dilakukan 2 kali. Telesurvei digagas untuk memantau kepatuhan dan perkembanganya di masyarakat DIY. Tingkat partisipasi masyarakat cukup baik diperlihatkan dari sampel mencapai 2400 di tahap pertama dan 1500 di tahap kedua.

Salah satu parameter yang cukup menarik untuk diilhat adalah tentang persepsi kerentanan terhadap COVID-19. Persepsi kerentanan dalam hal ini adalah penilaian individual masyarakat dalam menanggapi COVID-19. Hasil kajian memperlihatkan, masih cukup banyak masyarakat DIY yang menilai bahwa COVID-19 adalah bukan merupakan sebuah ancaman. Sebanyak 29,6% dari responden mewakili masyarakat DIY dari kelompok umur 15-65 tahun menyatakan COVID-19 adalah hal biasa saja.

Seseorang yang merasa bahwa COVID-19 bukan sebagai sebuah ancaman akan menjadikan dirinya kurang waspada dalam melakukan mencegah transmisi. Protokol kesehatan dimungkinkan tidak akan dilakukan dengan sebaik-baiknya untuk kelompok tersebut.

Kelompok penduduk usia <20 tahun adalah kelompok dengan persentase persepsi COVID-19 sebagai bukan ancaman yang tertinggi dibandingkan kelompok umur lainnya. Hasil telaah juga menemukan bahwa semakin tinggi umur maka persepsi rentan semakin meningkat.

Dalam konteks strategi edukasi, maka hasil ini menjadi penting dalam memilih dan memilah berdasar segmen kelompok umur. Sementara bagi masyarakat, hal ini perlu menjadi perhatian bersama dari kelompok milenial untuk bergabung membangun adaptasi kebiasaan baru serta bagi keluarga untuk dapat memperkuat dalam memberikan pendampingan.

Penduduk yang merasa rentan terhadap CIVID-19 tertinggi adalah di Kabupaten Kulonprogo (75,4%). Kota Yogyakarta (68,4%) dan Kabupaten Sleman (68,2%) keduanya memiliki karakteristik sebagai daerah dengan sektor jasa relatif dominan. Pada kedua wilayah tersebut ternyata menempati urutan terendah (68,4% dan 68,2%).

Pegawai swasta dan pegawai negeri / ABR / TNI merupakan segmen pekerja yang memiliki persepsi kerentanan COVID-19 tertinggi dibandingkan yang lain. Kelompok belum bekerja (Anak sekolah, mahasiwa, penganggur) merupakan kelompok dengan penilaian kerentanan rendah. Perbedaan antara kelompok pegawai dan belum bekerja terlihat cukup jauh / signifikan, hal ini menjadi catatan adanya kemungkinan informasi yang belum seimbang atau belum sesuai. Komunikasi risiko yang seringkali dilakukan secara generalisasi kemungkinan menjadi salah satu penyebab kondisi tersebut.

Hasil kajian terhadap penerapan protokol kesehatan memperlihatkan bhawa pemakaian masker di masyarakat DIY sudah sangat baik dengan lebih dari 93% diantaranya menyatakan memakai masker. Dalam kajian lebih lanjut mengenai penilaian terhadap komunitas di sekitar lingkungan, responden menyatakan bahwa baru 73% dari masyarakat yang membawa masker dan mengenakan dengan benar. Hal yang sama juga disampaikan oleh responden untuk kebiasaan mencuci tangan dengan sabun. Lebih dari 93% menyatakan bahwa dirinya melakukan cuci tangan dengan sabun. Kondisi ini masih diperlukan kajian lebih lanjut mengenai survey yang dilengkapi pengamatan perilaku.

Berbeda dengan dua protokol sebelumnya, menjaga jarak menjadi masalah yang paling sulit dihindari oleh masyarakat DIY. Hasil kajian memperlihatkan masyarakat yang menyatakan selalu manjaga jarak ketika di luar rumah dan berkomunikasi masih berada di bawah 70%.

Mengkaji dari pelaksanaan dua kali survey memperlihatkan bahwa untuk pemakaian masker dan menjaga jarak terjadi peningkatan namun tidak signifikan. Pemakaian masker meningkat dari 93,5% menjadi 94,2% sementara untuk menjaga jarak meningkat dari 93,5% menjadi 94,2%. Keduanya meningkatkan kurang dari 2%.  Meskipun tidak terjadi kenaikan namun hasil ini setidaknya cukup menggembirakan mengingat tidak terjadi penurunan meskipun diterpa dengan anggapan yang keliru dalam diksi “new Normal”.

Hasil yang terlihat kurang menggembirakan terlihat dari aspek menjaga jarak. Dari pelaksanaan survey kedua memperlihatkan bahwa kebiasaan menjaga jarak dilakukan oleh 62,1% responden. Kondisi menurun signifikan dibandingkan degan hasil survey sebelumnya yang mencapai 66,5%. Dalam hal ini konten komunikasi publik / risiko dalam COVID-19 disadari atau tidak masih terlihat kurang berimbang dalam membawa ketiga protokol tersebut. Pesan terkait masker sangat banyak dan paling sering menjadi bahan / materi utama dalam setiap edukasi atau media. Konteks jaga jarak perlu untuk selanjutnya dirumuskan sebagai materi yang di intensifkan dalam setiap edukasi / komunikasi publik.

Gambaran sebagian kecild ari hasil kajian tersebut tersebut daoat disimpulkan bahwa kewaspadaan masyarakat terhadap COVID-19 masih  sangat memerlukan dukungan mengingat masih cukup banyak yang menilai COVID-19 sebagai bukan ancaman. Sementara di sisi lain strategi komunikasi risiko perlu diubah strateginya berdasar berbagai hasil kajian.

Kontak Kami

JL. Gondosuli No.6 Yogyakarta Kota Yogyakarta DIY 55231 Indonesia
dinkes@jogjaprov.go.id
+62274563153
(0274)512368

Kunjungan

  • Hari Ini

  • 2.758
  • Bulan Ini

  • 114.766
  • Total Kunjungan

  • 821.705