Detail Artikel


  • 27 Desember 2021
  • 155
  • Artikel

Tanggap Bocah, Sebuah Pemberdayaan Komunitas

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit berbasis lingkungan yang faktor risiko penularannya dipengaruhi oleh kondisi sanitasi dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang buruk. Faktor risiko lain yang juga berpengaruh adalah peningkatan jumlah penduduk dan mobilitas perpindahan populasi yang semakin cepat karena semakin majunya sarana dan prasarana transportasi yang ada saat ini. Angka kejadian DBD fluktuatif jumlah kejadian pada setiap tahunnya, pada Tahun 2020 dilaporkan sebanyak 108.303 kasus terjadi di Indonesia. Incidence Rate DBD pada Tahun 2020 sebesar 40 per 100.000 penduduk. Provinsi dengan IR DBD tertinggi yaitu Bali 273,1, Nusa Tenggara Timur 107,7 dan DI Yogyakarta 93,2 (Profil Kesehatan Indonesia, 2020).

Berbagai upaya pengendalian sudah dilakukan untuk mencegah DBD akan tetapi jumlah Kabupaten/kota yang terjangkit DBD menunjukkan kecenderungan peningkatan sejak Tahun 2010 sampai dengan 2019. Salah satu metode yang telah banyak dilakukan untuk mencegah DBD adalah dengan pemberdayaan masyarakat melalui program 3M Plus yang meliputi menutup tempat penampungan air, menguras secara berkala tempat penampungan air, mengolah barang-barang bekas, dan memantau berkala jentik nyamuk. Ketika awal diterapkan program ini cukup menjadi unggulan karena cukup berhasil menekan angka kejadian DBD, akan tetapi pada masyarakat perkotaan cara ini tidak lagi efektif. Jumlah kader kesehatan di perkotaan semakin berkurang karena banyak wanita dewasa yang dahulu menjadi anggota kader juru pemantau jentik pada masyarakat perkotaan sudah tidak lagi banyak ditemui. Wanita dewasa perkotaan cenderung menjadi wanita karir yang bekerja sehingga tidak lagi dapat mendukung kegiatan pemantauan jentik secara berkala.

Tanggap Bocah atau lebih dikenal dengan TABO merupakan hasil suatu upaya inovatif yang dibentuk dan diperkenalkan pertama kali pada Tahun  2010 di wilayah Kapanewon Sleman oleh Muslikah,ST Sanitarian Puskesmas Sleman. Tujuan pembentukan kelompok ini adalah untuk mendukung program pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) berbasis masyarakat yang memilih anak-anak sebagai mitra kerja. Selain itu tujuan lain yang juga penting adalah sebagai upaya kaderisasi dan pengenalan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sedini mungkin. Tugas utama anggota TABO adalah melakukan pemantauan jentik setiap minggunya dengan mendatangi rumah warga untuk memeriksa keberadaan jentik di bak penampungan air atau tempat lain yang mungkin menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk. Prinsip utama dalam pencegahan dan penyebaran penyakit DBD menurut Prof Arif Sumantri (2012) dilakukan dengan urutan prioritas dari yang paling penting ke yang tidak penting, yaitu lingkungan, manusia, vektor dan pengamatan kasus.

 Angka kejadian DBD di Kapanewon Sleman memang cukup tinggi. Ketika awal pembentukannya di Dusun Ganjuran Kalurahan  Caturharjo Kapanewon Sleman, kasus DBD Tahun 2009 tercatat 3 kasus kemudian Tahun 2010 sebanyak 1 kasus dan Tahun 2011 sebanyak 0 kasus. Angka Bebas Jentik (ABJ) juga mengalami peningkatan berturut-turut pada Tahun 2009 sebesar 95%, Tahun 2010 sebesar 96% dan Tahun 2011 sebanyak 96%. Melihat kondisi tersebut kemudian dilakukan duplikasi program di lokasi Dusun lain yang   masih dalam wilayah kerja Puskesmas Sleman. Saat ini sudah terbentuk 83 kelompok TABO dengan 20-30 anggota, mulai usia sekolah TK sampai SMP pada setiap kelompoknya.

Tanggap Bocah (TABO) merupakan program inovasi unggulan yang juga mendukung program lain di wilayah Puskesmas Sleman, salah satunya adalah Puskesmas Ramah Anak. Dalam kegiatan TABO terdapat upaya promosi kesehatan dan pencegahan penyakit terutama berkaitan dengan pengendalian DBD. Pelibatan anak usia sekolah memiliki banyak manfaat, yaitu mengajarkan kepada anak untuk lebih peka dan mawas terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya, dalam hal ini anak menjadi tahu dan mampu melakukan upaya pencegahan penyebaran DBD di wilayah tempat tinggalnya. Manfaat lain adalah tergeraknya orang tua dan komunitas yang ada disekitar anggota TABO untuk turut berpartisipasi dalam melakukan hal yang sama, yaitu melakukan tindakan pencegahan dan penyebaran DBD melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan pemantauan jentik secara berkala.

Program ini dapat terus berlanjut dan berkembang apabila dikelola dengan baik dan selalu melakukan upgrade kegiatan, materi, metode dan berbagai inovasi lainnya. Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta selama ini turut serta dalam melakukan pendampingan terhadap kader dewasa dan anggota TABO Kapanewon Sleman. Hasil dan kegiatan yang sudah dijalankan dengan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, antara lain:

1. Pendampingan Kader TABO

Pendampingan terhadap anggota TABO dengan memberikan upgrade informasi, sharing pengalaman dan menyampaikan materi tentang DBD dan kesehatan lingkungan. Tahun 2017 melalui kegiatan penelitian dengan responden anggota TABO menunjukkan hasil terdapat perbedaan sikap, pengetahuan dan perilaku antara anggota TABO dan bukan anggota TABO. Anggota TABO memiliki sikap, pengetahuan dan perilaku dalam kategori yang baik jika dibandingkan dengan responden dari kelompok bukan TABO

 

Kontak Kami

JL. Gondosuli No.6 Yogyakarta Kota Yogyakarta DIY 55231 Indonesia
dinkes@jogjaprov.go.id
+62274563153
(0274)512368

Kunjungan

  • Hari Ini

  • 6.898
  • Bulan Ini

  • 617.886
  • Total Kunjungan

  • 6.187.029