Detail Artikel


  • 29 Juli 2023
  • 2.130
  • Artikel

Sisa Makanan dari Piring KIta (Plate Waste)

 

Pendahuluan

Kondisi darurat sampah yang dipicu oleh penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Piyungan Kabupaten Bantul yang merupakan depo akhir sampah rumah tangga dan institusi dari setidaknya 3  dari 5 kabupaten di DIY, telah memicu polemik di masyarakat. Kondisi ini telah memicu pergerakan dari berbagai elemen untuk mencari solusi cepat dalam masa darurat, namun juga telah memicu berbagai diskusi untuk mengembangkan sustainabilitas dari tatakelola sampah di DIY.

Salah satu perhatian yang menjadi perbincangan adalah timbulan sampah yang sangat besar yang muncul dari sampah domestik atau rumah tangga di DIY. Menarik bahwa timbulan sampah yang sangat besar tersebut salah satu yang menjadi sumbernya adalah sisa makanan yang berasal dari berbagai piring di rumah tangga, institusi termasuk rumah sakit yang cukup signifikan.

Permasalahan sisa makanan yang berasal dari makanan di piring kita ini menarik untuk ditinjau kembali. Artikel ini mencoba untuk menggali kembail mengenai apa itu sampah dari piring atau yang dikenal di lingkup global sebagai Plate Waste. Artikel akan menggali dalam lingkup global tentang isu Plate Waste dan mencoba memberikan beberapa catatan terkait inisiatif strategi yang diperoleh dari berbagai sumber.

 

Permasalahan Plate Waste

Plate Waste (Limbah yang berasal dari piring) adalah istilah yang digunakan mengacu pada sisa makanan yang tidak dikonsumsi (tersisa) di piring setelah makan dan dibuang. Sisa makanan ini seringkali kemudian akan berakhir sebagai limbah makanan. Masalah ini memiliki implikasi yang signifikan terhadap ketahanan pangan, lingkungan, dan ekonomi. Dalam penjelasan berikut, akan mempelajari penyebab pemborosan, konsekuensinya, dan potensi solusi untuk mengurangi masalah tersebut.

Plate Waste  merupakan masalah yang kompleks dan multifaset yang muncul dari berbagai faktor. Faktor faktor tersebut diantaranya adalah perilaku individu, norma masyarakat, dan praktik institusional. Faktor tersebut muncul di berbagai titik dalam rantai pasokan makanan dari produksi hingga konsumsi. Kondisi Plate Waste di seluruh dunia telah berkontribusi secara signifikan terhadap krisis limbah makanan global, yang berdampak parah bagi lingkungan, ekonomi, dan kesejahteraan sosial. Dengan memahami penyebab Plate Waste, penting untuk agar dapat mengembangkan solusi yang efektif terhadap permasalahan.

 

Faktor-faktor yang Berkontribusi

Porsi dan Makan Berlebihan  : Ukuran porsi yang besar seringkali menyebabkan makan berlebihan, karena konsumen merasa berkewajiban untuk menghabiskan mkanan di piring mereka. Restoran dan tempat makan yang menawarkan porsi besar berkontribusi pada masalah ini. Akibatnya, konsumen mungkin akan meninggalkan makanan berlebih di piring mereka, yang akhirnya menjadi sampah.

Faktor Budaya dan Sosial  : Sikap budaya terhadap makanan memainkan peran penting dalam Plate Waste. Dalam beberapa budaya, meninggalkan makanan di atas piring dapat dilihat sebagai tanda penghormatan terhadap tuan rumah atau sebagai tampilan kelimpahan. Norma dan praktik sosial juga memengaruhi cara individu berinteraksi dengan makanan dan limbah.

Kurangnya Kesadaran dan Pendidikan Pangan  : Banyak orang tidak menyadari dampak lingkungan dan sosial dari limbah makanan. Kurangnya pendidikan dan kesadaran tentang praktik makanan berkelanjutan berkontribusi pada penerimaan Plate Waste sebagai norma.

Preferensi Makanan dan Pilihan Diet  : Preferensi makanan individu dan pembatasan diet dapat menyebabkan pemborosan berupa sisa makanan dari piring. Ketika orang disajikan makanan yang tidak mereka sukai atau tidak dapat dikonsumsi karena alasan diet, mereka mungkin membiarkannya dan tidak dimakan.

Praktek Kelembagaan  : Di lingkungan institusional seperti sekolah, rumah sakit, dan tempat kerja, makanan seringkali disiapkan makanan dalam piring dalam jumlah yang banyak. Kafetaria dan layanan katering mungkin berupaya untuk memperkirakan jumlah makanan yang dibutuhkan secara akurat, yang mengakibatkan kelebihan makanan yang disiapkan dan akhirnya terbuang sia-sia. Pilihan menu kepada pasien dan penyajian yang kurang menarik bagi pasien di Rumah Sakit juga merupakan faktor besar yang mempengaruhi sisa makanan di rumah sakit.

Estetika dan Persepsi Kesegaran  : Konsumen mungkin menghindari makan makanan yang tidak terlihat menarik secara estetika atau menganggapnya sudah tidak segar lagi. Persepsi ini dapat menyebabkan makanan yang dapat dimakan dibuang sebelum waktunya.

 

Konsekuensi Plate Waste

Konsekuensi dari Plate Waste sangat luas, meliputi berbagai aspek masyarakat, lingkungan, dan ekonomi. Berikut disajikan beberapa gambaran konsekuensi dari Plate Waste :

Kerawanan Pangan dan Kelaparan : Limbah makanan, termasuk Plate Waste, merupakan peluang yang terlewatkan secara signifikan untuk mengurangi kelaparan global dan kerawanan pangan. Sumber daya yang terbuang untuk memproduksi, mengangkut, dan menyiapkan makanan yang tidak dimakan dapat digunakan untuk memberi makan jutaan orang di seluruh dunia.

Dampak Lingkungan : Plate Waste memiliki konsekuensi lingkungan yang substansial. Produksi, distribusi, dan pembuangan makanan yang terbuang berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca, penggundulan hutan, dan penipisan sumber daya air. Selain itu, penguraian sampah organik di tempat pembuangan akhir menghasilkan metana, gas rumah kaca yang kuat.

Penipisan Sumber Daya : Menumbuhkan, mengolah, dan mengangkut makanan membutuhkan sumber daya alam yang berharga, termasuk air, tanah, dan energi. Saat makanan terbuang sia-sia, sumber daya ini terbuang sia-sia, memberikan tekanan tambahan pada sumber daya planet yang terbatas.

Kerugian Ekonomi : Limbah makanan, termasuk Plate Waste, merupakan kerugian ekonomi yang signifikan. Sumber daya yang diinvestasikan dalam memproduksi dan mendistribusikan makanan yang tidak dimakan diterjemahkan menjadi uang yang terbuang percuma bagi individu, bisnis, dan pemerintah.

Pertimbangan Etis : Di dunia di mana jutaan orang menderita kelaparan dan kekurangan gizi, pemborosan makanan menimbulkan pertanyaan etis. Keberadaan Plate Waste menyoroti masalah ketimpangan dan distribusi sumber daya.

Dampak terhadap Keanekaragaman Hayati : Ekspansi pertanian untuk memenuhi permintaan makanan, yang sebagian besar akhirnya terbuang sia-sia, berkontribusi pada perusakan habitat dan hilangnya keanekaragaman hayati. Hal ini memengaruhi ekosistem dan satwa liar, yang semakin mengacaukan keseimbangan keanekaragaman hayati planet ini.

 

Insiatif dan Strategi

Berbagai inisiatif dan strategi telah diusulkan dan diterapkan untuk mengatasi Plate Waste di berbagai tingkatan. Berikut adalah beberapa pendekatan utama :

Kampanye Kesadaran dan Pendidikan : Meningkatkan kesadaran tentang dampak Plate Waste melalui kampanye pendidikan dapat membantu mengubah sikap dan perilaku konsumen. Pemerintah, organisasi nirlaba, dan sektor swasta dapat berkolaborasi untuk mempromosikan praktik makanan berkelanjutan dan mengurangi Plate Waste.

Standarisasi Ukuran Porsi : Perusahaan makanan dapat berperan dalam mengurangi Plate Waste dengan menstandarkan ukuran porsi. Dengan menawarkan porsi yang lebih kecil dan masuk akal, pelanggan cenderung tidak makan berlebihan atau membiarkan makanan tidak dimakan.

Mendorong Tas Bawa Pulang : Restoran dan kafetaria dapat mendorong pelanggan untuk membawa pulang sisa makanan mereka dengan menyediakan tas untuk dibawa pulang. Praktik ini dapat membantu mengurangi Plate Waste dan memungkinkan individu untuk menikmati makanannya nanti.

Program Donasi : Pengaturan kelembagaan dapat menerapkan program donasi makanan untuk mengalihkan kelebihan makanan kepada mereka yang membutuhkan. Bank makanan lokal dan badan amal dapat bermitra dengan sekolah, rumah sakit, dan bisnis untuk mengumpulkan dan mendistribusikan kelebihan makanan, memerangi Plate Waste dan kerawanan makanan.

Memperbaiki Label Pangan : Pelabelan makanan yang jelas dan akurat dapat membantu konsumen membuat keputusan yang tepat tentang pembelian mereka dan mengurangi limbah makanan. Tanggal "Use-by" dan "sell-by" sering membingungkan, menyebabkan pembuangan makanan yang dapat dimakan sebelum waktunya.

Mendesain Ulang Prasmanan dan Pengaturan Swalayan : Prasmanan dan pengaturan swalayan di restoran dapat berkontribusi pada pemborosan piring karena sifat "makan sepuasnya" dari format ini. Mendesain ulang pengaturan ini untuk mendorong porsi yang lebih kecil atau menawarkan opsi a la carte dapat membantu mengurangi pemborosan.

Sistem Manajemen Pangan Cerdas : Kemajuan teknologi dapat membantu mengurangi Plate Waste. Sistem manajemen pangan yang cerdas dapat diterapkan di institusi untuk memantau pola konsumsi pangan dan menyesuaikan produksi pangan.

Pengomposan dan Pemulihan Pangan : Pengomposan limbah makanan dan memulihkan sisa makanan untuk pakan ternak adalah strategi pengelolaan limbah yang efektif. Praktik-praktik ini mengalihkan sampah organik dari tempat pembuangan sampah, mengurangi emisi metana, dan mempromosikan prinsip ekonomi sirkular.

 

Kesimpulan

Plate Waste merupakan masalah global yang memerlukan tindakan kolektif dari individu, bisnis, pemerintah, dan organisasi internasional. Dengan mengatasi penyebab Plate Waste, memahami konsekuensinya, dan menerapkan inisiatif yang efektif, kita dapat mengambil langkah signifikan untuk mengurangi limbah makanan, memastikan ketahanan pangan, dan melindungi lingkungan untuk generasi mendatang. Melalui upaya kolaboratif dan praktik berkelanjutan, kita dapat menciptakan dunia yang lebih sadar pangan dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Pendekatan meminimalkan volume sampah domestik dan institusi seharusnya juga dapat diterapkan untuk meminimalkan potensi sisa makanan dari setiap piring di DIY. Inisiatif strategi dalam meminimalkan plate waste perlu mulai untuk dijadikan sebagai agenda dalam perubahan jangka menengah dan panjang dengan melalui upaya kolaboratif dan berkelanjutan. DIY dengan fundamen fiskal yang banyak dipengaruhi oleh pariwisata sangat memerlukan situasi lingkungan yang aman dan jauh dari kedaruratan sampah di masa depan.

 

Penulis  : Bidang SDK (ags)

 

Kontak Kami

JL. Gondosuli No.6 Yogyakarta Kota Yogyakarta DIY 55231 Indonesia
dinkes@jogjaprov.go.id
+62274563153
(0274)512368

Kunjungan

  • Hari Ini

  • 7.774
  • Bulan Ini

  • 1.728.429
  • Total Kunjungan

  • 21.846.613