Detail Artikel


  • 27 Maret 2023
  • 654
  • Artikel

Peta Kekuatan SDMK Lintas Wilayah Kabupaten/kota di DIY Tahun 2022

Sumber Daya Manusia Kesehatan (SDMK) terdiri atas tenaga kesehatan dan tenaga non kesehatan yang bekerja dan mengabdikan dirinya dalam bidang kesehatan. Sumber Daya Manusia Kesehatan menjadi komponen strategis pembangunan Kesehatan. Ketersediaan SDMK yang tidak mencukupi, baik jumlah, jenis dan kualifikasi serta distribusi yang tidak merata akan berpotensi menimbulkan dampak terhadap ketersediaan dan selanjutnya akses pelayanan.

Sebaran SDM Kesehatan DIY hingga saat ini masih menghadapi tantangan berupa tidak meratanya ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan (Fasyankes). Ketersediaan fasyankes ini banyak terkonsentrasu di wilayah perkotaan dan pusat ekonomi perifer yang dekat dengan perkotaan. Sebagai konsekuensinya, jumlah SDMK antar wilayah juga cenderung terkonsentrasi di wilayah-wilayah tersebut.

Dalam kesempatan ini, penulis mencoba memberikan sebuah gambaran terkait kondisi ketenagaan dalam hal ini SDMK di DIY di tahun 2022. Secara khusus penulis mencoba memperlihatkan gambaran kondisi disparitas antar wilayah yang terjadi dan menjadi tantangan dalam pengembangan penyediaan SDMK secara merata sesuai kebutuhan antar wilayah. Namun sebelum menapak kepada gambaran disparitas berikut disajikan gambaran pertumbuhan SDMK di DIY dari tahun ke tahun.

Gambaran pertumbuhan jumlah SDMK di DIY dari tahun 2018 – 2022 menunjukkan adanya dinamika penurunan dan kenaikan khususnya terjadinya peningkatan drastis di tahun 2020-2021. Kondisi ini sangat dipengaruhi oleh dinamika pandemi Covid-19. Kebutuhan SDMK yang membengkak telah memicu munculnya kebijakan rekrutmen dan strategi lain untuk meningkatkan kecukupan tenaga dalam penanganan Covid-19 di DIY. Lebih khusus kebutuhan tersebut adalah terkait dengan kebutuhan SDMK untuk pelayanan vaksinasi Covid-19 melalui berbagai sentra vaksinasi yang berkembang memasuki periode  tahun 2021.

Dinamika pertumbuhan pesat jumlah SDMK di tahun 2021 selanjutnya telah menurun kembali di tahun 2022 seiring dengan kebijakan pengembalian definisi SDMK ke dalam ketentuan sebagaimana sebelum pandemi. Penurunan juga dipengaruhi oleh mulai tertatanya sistem layanan vaksinasi dan mulai menurunnya tekanan percepatan vaksinasi dibandingkan tahun 2021 yang cukup masif. Bagaimana Sementara Gambar 4 di atas menunjukkan bahwa jumlah SDM Kesehatan di Daerah Istimewa Yogyakarta sebagian besar masih bekerja di Kabupaten Sleman yaitu sebanyak 18.785 orang (40,82%) dan disusul Kota Yogyakarta sebanyak 12.053 orang (26,19%), sedangkan sisanya tersebar di tiga kabupaten lainnya.

Distribusi jumlah SDM Kesehatan di Daerah Istimewa Yogyakarta sebagaimana gambaran grafik menunjukkan bahwa sebagian besar berada / bekerja di wilayah Kabupaten Sleman yaitu sebanyak 18.785 orang (40,82%) dan disusul Kota Yogyakarta sebanyak 12.053 orang (26,19%). Kabupaten Gunungkidul dan Kulonprogo menempati urutan terakhir dengan pautan jumlah tenaga yang cukup besar dibandingkan Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta

Meninjau hanya dari sisi jumlah tentunya terlihat bias mengingat kapasitas kebutuhan antar wilayah tentunya memiliki perbedaan. Beberapa hal sederhana yang sering digunakan untuk mengukur adalah dikaitkan dengan beban layanan yaitu jumlah penduduk dan luas wilayah

Dengan menggunakan variabel tersebut sebagai pembanding maka terlihat perbedaan. Pertama bahwa Kabupaten Bantul ternyata menempati urutan kedua dalam hal rasio jumlah SDMK per 1000 penduduk. Sementara Gunungkidul tetap menempati urutan terendah dengan 5,17/1000 penduduk. Untuk kapasitas tertinggi  ternyata ditempati oleh Kota Yogyakarta yang jauh meninggal kabupaten Sleman di urutan kedua

Ditinjau dari luas wilayah, Kabupaten Gunungkidul dengan jumlah SDMK terkecil namun memiliki luas wilayah terluas menyebabkan wilayah ini memiliki beban tertinggi dengan 2,6 SDMK / Km2. Kota Yogyakarta dengan luasan wilayah terkecil namun memiliki fasilitas pelayanan kesehatan yang cukup banyak dan besar menempati urutan pertama jauh meninggalkan kabupaten yang lain yang ada di DIY

Berdasarkan gambaran tersebut terlihat jelas bahwa wilayah Seman dan Kota Yogyakarta memiliki dukungan kekuatan SDMK yang meninggalkan wilayah lain di DIY. Kedua wilayah tersebut memiliki karakteristik wilayah sebagai wilayah dengan kemampuan fiskal relatif lebih tinggi. Kekuatan ekonomi pada sektor jasa relatif dominan. Sementara untuk Kulonprogo dan Gunungkidul, jumlah fasilitas kesehatan yang jauh tertinggal serta kapasitas fiskal yang juga tertinggal menyebabkan pertumbuhan layanan khususnya penyediaan SDMK menjadi tertinggal. Hal ini menjadi catatan penting mengingat pertumbuhan derah selatan (Gunungkidul, Kulonprogo dan Bantul) menjadi salah satu visi misi yang dikejar di Daerah Istimewa Yogyakarta 

Pada tahun 2022 total jumlah SDMK yang bekerja di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan dan institusi kesehatan di DIY mencapai 46.014 tenaga. Jumlah tersebut terdistribusi ke lima kabupaten / kota yang ada di DIY. Gambaran data terlihat jelas bahwa terjadi disparitas yang sangat siginifikan antar wilayah kabupaten di DIY

 

Penulis : Bidang SDK (Agus) 
 

Kontak Kami

JL. Gondosuli No.6 Yogyakarta Kota Yogyakarta DIY 55231 Indonesia
dinkes@jogjaprov.go.id
+62274563153
(0274)512368

Kunjungan

  • Hari Ini

  • 6.911
  • Bulan Ini

  • 1.728.429
  • Total Kunjungan

  • 21.971.776