Detail Artikel


  • 19 Desember 2019
  • 2.071
  • Artikel

Pengendalian Sifilis Melalui Tripel Eliminasi

Tripel eliminasi merupakan upaya pemerintah untuk memutus rantai penularan Hepatitis B, HIV, dan sifilis dari ibu ke anak. Ketiga penyakit tersebut memiliki karakteristik yang mirip karena banyak ditularkan melalui jalur maternal.

Dasar Hukum program ripel eliminasi adalah :

  • UU No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
  • UU No 17 tahun 2016 tentang Peraturan Pemerintah Pengganti UU Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan kedua atas Undang Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan anak,negara, pemerintah pusat, pemerintah pusat, pemerintah daerah, keluarga, dan orang tua wajib mengusahakan agar anak yang lahir terhindar dari penyakit yang mengancam kelangsungan hidup dan atau menimbulkan kecacatan.
  • Permenkes nomor 52 tahun 2017 tentang Tripel Eliminasi Hepatitis B, HIV, dan sifilis dari ibu ke anak.

Kebijakan utama dalam Tripel Eliminasi  meliputi upaya deteksi dini pada ibu hamil dan bayi  serta penanganan kasus sifilis pada ibu hamil maupun bayi yang dilahirkan.

Deteksi Dini

  • Deteksi Dini kehamilan dalam pelayanan antenatal terpadu berkualitas dan lengkap dilaksanakan oleh tenaga kesehatan di setiap fasilitas pelayanan kesehatan
  • Deteksi Dini resiko infeksi hepatitis B, HIV dan sifilis dilakukan melalui pemeriksaan darah paling tidak satu kali pada masa kehamilan. Direkomendasikan pada pemeriksaan ANC pertama,
  • Bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi hepatitis B, HIV dan sifilis dilakukan pemeriksaan dan pemantauan apakah terjadi penularan dari ibu

Penanganan Kasus :

  • Penanganan diberikan sesuai kebutuhan ibuyang terinfeksi  serta bayi yang lahir dari ibu tersebut
  • Penanganan sesuai dengan tata laksana kedokteran
  • Penanganan bagi bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi dilakukan sesuai kondisi bayi

 

SIFILIS

Penyebab dan Perjalanan Penyakit

            Sifilis disebabkan oleh bakteri Treponema Pallidum. Penyakit ini termasuk penyakit menular seksual . Masa inkubasi 3 sd 4 minggu. Gejala muncul 10 sd 90 hari setelah infeksi

Diagnosis  dan Gejala

Sifilis akuisita

Sifilis akuisita bermakna sifilis yang didapatkan karena tertular dari penderita lain. Ada beberapa tahap perkembangan penyakit, meliputi :

Sifilis akuisita Dini

  • Stadium primer :

   Lesi tunggal ( chancre), sifatnya bulat kenyal ,dasar bersih .tidak nyeri di daerah genital.

           Bertahan 3 sd 6 mg, sembuh sendiridengan atau  tanpa diobati

  • Stadium sekunder :

     Gejalanya antara lain : Ruam kulit, satu atau lebih bagian tubuh, tidak gatal, biasanya di telapak tangan atau kaki.Demamsering terjadi. Pembengkakan  

     kelenjar getah bening, penurunan berat badan, nyeri otot, mudah lelah, radang tenggorokan, kerontokan rambut kepala berkelompok,  serta nyeri kepala

Sifilis akuisita Lanjut

Berlangsung bertahun tahun tanpa gejala. Dilanjutkan kesulitan koordinasi gerakan otot, kelumpuhan, mati rasa, kebutaan , demensia, merusak organ organ vital, dan akhirnya menyebabkan kematian

Sifilis Maternal

Sifilis ini terjadi karena ada penularan dari ibu ke bayi yang dilahirkannya. Sifilis pada ibu hamil yang tidak diobati dapat menyebabkan keguguran, prematuritas, bayi berat lahir rendah, lahir mati, dan sifilis kongenital. Sifilis ini 50 % tanpa gejala. Manifestasi yang sering muncul adalah keratitis intersisial, limfadenopati, hepatosplenomegali, kerusakan tulang, anemia, gigi Hutchinson, dan neurosifilis.

Pemeriksaan penunjang

Tes serologi sifilis, terdiri dari 2 tahap :

-Tes non treponema, yaitu RPR atau VDRL

-Tes treponema, yaitu TPHA ( Treponema Pallidum Haemaglutination Assay), TP-PA ( Treponema Pallidum Particle agglutination assay), FTA- ABS ( fluorescent treponemal), dan TP rapid ( Treponema Palidum).

Kombinasi dua jenis pemeriksaan diperlukan untuk mengidentifikasi adanya infeksi sifilis dan menjelaskan tahapan dari penyakit.

Penularan

Sifilis akuisita : melalui hubungan seksual      dan produk darah yang tercemar

Sifilis maternal : penularan dari ibu ke anak, melalui beberapa rute (saat kehamilan, atau pasca persalinan melalui kontak bayi dengan lesi ibu)

Pencegahan  

  • Absensia, saling setiapada pasangan, pemakaian kondom
  • Skrining ibu hamil, bila positif sifilis diobati sesuai standar
  • Menghindari kontak bayi baru lahir dengan lesi sifilis pada ibu
  • Persalinan secara spontan atau SC sesuai indikasi

Pengobatan

Antibiotika : DOC golongan Penicillin

Kontak Kami

JL. Gondosuli No.6 Yogyakarta Kota Yogyakarta DIY 55231 Indonesia
dinkes@jogjaprov.go.id
+62274563153
(0274)512368

Kunjungan

  • Hari Ini

  • 649
  • Bulan Ini

  • 1.728.429
  • Total Kunjungan

  • 21.864.162