Detail Artikel


  • 11 Agustus 2023
  • 1.548
  • Artikel

PEKAN MENYUSUI SEDUNIA : UPDATE INDONESIA

 

Pekan Menyusui Sedunia diperingati pada setiap awal bulan Agustus dan untuk Indonesia kampanye pekan Menyusui Sedunia dilaksanakan pada keseluruhan bulan Agustus 2023. Sebagaimana telah menjadi ketetapkan kebijakan untuk menurunkan stunting hingga mencapai dibawah 14%, saat ini kondisi yang stunting di Indonesia masih berada pada level 21,6%. Pada akhir tahun 2024 diharapkan bahwa stunting di Indonesia telah dapat diturunkan hingga mencapai angka 14% tersebut.  

Intervensi-intervensi yang dikembangkan oleh Pemerintah bersama berbagai mitra dilakukan dengan memilah berdasarkan kelompok umur. Pada kelompok umur di 1000 hari pertama di bawah 24 bulan ini menjadi masa krusial untukm encegah anak-anak menjadi stunting. Hasil survei status Gizi Indonesia 2022 (SSGI 2022) menunjukkan bahwa prevalensi stunting pada saat lahir mencapai 18,5%. Angka tersebut menurun (membaik) pada kelompok umur 0 sampai 5 bulan dengan prevalensi mencapai 11,7% dan 13,7% pada kelompok umur 6 sampai 11 bulan. Namun ternyata bahwa prevalensi stunting meningkat tajam pada kelompok umur di atas 11 bulan.

Bayi baru lahir hingga usia 11 bulan merupakan masa dimana pemberian Air Susu Ibu (ASI) Ekslusif dilakukan. Hasil Kajian SSGI memperlihatkan bahwa terjadi perbaikan prevalensi stunting yang terjadi pada bayi umur 0 sampai 5 bulan. Periode waktu 0-5 bulan merupakan periode dimana praktek-praktek pemberian ASI Ekslusif dilakukan. Dengan demikian periode tersebut menjadi periode waktu yang penting dalam pemberian proteksi terhadap risiko terjadinya stunting.

Mengacu hasil kajian tersebut maka agar penurunan risiko stunting dapat ditekan lebih jauh lagi, maka intervensi lanjut penerapan ASI Ekslusif perlu ditingkatkan. Data lebih lanjut menunjukkan bahwa praktek pemberian ASI Ekslusif di Indonesia pada bayi usia 0 sampai 5 bulan baru mencapai 52,2%. Sementara untuk lonjakan hingga mencapai 1,6x angka prevalnsi saat transisi di bawah 24 bulan menjadi indikasi dari perlunya makanan pendamping air susu ibu (MPASI) yang kaya akan protein hewani.

Mengapa pemberian ASI khususnya ASI eklusif menjadi tahaoan yang sangat penting hal ini tidak terlepas dari kemanfaatan luar biasa dari ASI. ASI mengandung mengandung antibodi sehingga bisa membantu melawan infeksi lanjut. ASI merupakan makanan terbaik yang dibutuhkan untuk perkembangan otak dan mata bayi. ASI juga mencegah penyakit tidak menular. Berbagai hasil penelitian memperlihatkan bahwa ASI mencegah obesitas pada saat dewasa. Berbagai penyakit yang diakibatkan oleh obesitas turun jika bayi diberikan ASI. Pemberian ASI meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup ibu dan meningkatkan bounding / perikatan antara bayi dan ibu. Pemberian ASI akan mengurangi resiko untuk mengalami penyakit kronis yang bisa dicegah saat dewasa seperti jantung, stroke, gagal ginjal karena dengan pemberian ASI resiko obesitas dan diabetes akan turun pada saat dewasa

Bagaimana sebenarnya prinsip-prinsip asupan gizi terbaik yang seharusnya diberikan pada 1000 hari pertama kehidupan hingga usia 2 tahun, berikut disajikan beberapa ringkasan :

  1. Mendapatkan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) : inisiasi ini sangat menentukan keberhasilan pemberian ASI ke depan. Bayi lahir mendapat IMD dengan cara saat  lahir bayi ditaruh langsung di dada Ibu, Bayi bisa mencari puting ibu dan langsung menumbuhkan refleks menghisap yang baik. IMD diberikan / ditaruh minimal dalam 1 jam di atas dada Ibu. Sebagai kali pertama bayi menyusu kepada ibu akan menjadi pengalaman pertama yang sangat berkontribusi pada keberhasilan pemberian ASI dan ASI eksklusif
  2. Pemberian ASI Eksklusif selama 6 bulan : Pemberian ASI eksklusif saat bayi Ibu baru lahir adalah makanan terbaik yang bisa Ibu berikan untuk bayi. Dengan pemberian ASI Ekslusif saja kebutuhan bayi sudah dapat tercukupi. Tidak diperlukan pemberian yang lain termasuk air putih. Sesudah 6 bulan baru mulai diberikan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). Mulai usia 6 bulan diberikan makanan keluarga berbahan dasar lokal yang kaya protein hewan dengan bentuk-bentuk yang semakin lama semakin menyerupai pola makan dewasa. Awalnya dimulai dengan makanan lumat, selanjutnya cincang dan lebih lanjut seperti pada orang dewasa
  3. Pemberian ASI meningkatkan produksi ASI : Tubuh ibu sudah disiapkan untuk bisa memberikan ASI saat bayi lahir ke dunia. Bayi tidak membutuhkan makanan lain kecuali ASI selama 6 bulan pertama. Pemberian ASI juga tidak berdasarkan jam atau waktu pemberian jadi tidak perlu dijadwalkan. Setiap kali bayi meminta / haus dan menangis, berikan ASI karena semakin sering diberikan ASI semakin akan banyak produksi ASI.  Dengan lebih sering disusui maka akan ada perintah untuk tubuhnya membuat lebih banyak ASI.
  4. Kecukupan Gizi Ibu Menyusui : Pastikan pada saat menyusui ibu menyusui tercukupi kebutuhan gizinya. Prinsip program “Isi Piringku” telah dibagi dalam segmen ibu hamil, segmen ibu menyusui, segmen bayi dan segmen balita. Ibu menyusui juga membutuhkan asupan-asupan gizi dan tambahan asupan gizi sehingga harus tercukupi kebutuhan gizinya.

Kondisi cakupan menyusui dalam 2 tahun terakhir menunjukan bahwa praktek Inisiasi Menyusui Dini mengalami kenaikan. Hal ini menunjukkan para ibu-ibu di Indonesia saat ini sudah jauh lebih mengerti bahwa pada saat bayi lahir penting untuk melakukan IMD. Namun demikian terkait dengan ASI eksklusif 0-5 bulan sampai saat ini belum terjadi peningkatan bahkan masih stagnan di angka 52%. Diharapkan bahwa cakupan ASI Ekslusif ini dapat meningkat mencapai di atas 70%. ASI Eksklusif saat ini menjadi satu-satunya target intervensi spesifik karena di tahun 2022 masih belum berhasil dicapai.

Hasil kajian memperlihatkan bahwa praktek pemberian ASI eksklusif di Indonesia menurun pada bulan ketiga. Hal ini disebabkan  ibu umumnya telah mulai bekerja kembali dan tidak dapat sepenuhnya memenuhi target 0-5 bulan. Saat ini dari data Badan Pusat Statistik memperlihatkan bahwa jumlah ibu bekerja di Indonesia tercatat mencapai 52,74 juta orang yang bekerja di berbagai sektor.

Dari sejumlah 52,74 juta ibu bekerja di Indonesia tersebut, mereka juga akan menjalani masa kehamilan, melahirkan dan memiliki anak. Dengan jumlah yang sangat besar dari ibu yang berisiko pada bulan ketiga tidak dapat menjalankan ASI Ekslusif tersebut, maka diperlukan upaya besar untuk adanya intervensi-intervensi terbaik terutama pada awal kehidupan bayinya.

Fenomena yang sama terjadi di Amerika dimana ibu mulai bekerja pada saat 3 bulan setelah memulai ASI Ekslusif dan berdampak dengan penurunan cakupan ASI Ekslusif. Kondisi ini dipengaruhi oleh ketersediaan fasilitas memerah ASI yang kurang memadai, tidak memiliki kesempatan untuk memberikan ASI dan lain sebagainya. Dibutuhkan dukungan semua pihak agar ibu-ibu bekerja tetap dapat memberikan ASI eksklusif nya.

Contoh lain yang dilaksanakan di India, dimana negara tersebut telah menyediakan sarana tempat penitipan anak yang dekat dengan tempat bekerja Ibu dan ibu diberikan kesempatan mengunjungi anaknya sebanyak maksimal 4 kali perhari di tempat penitipan anak untuk menyusui pada jam kerja tanpa memotong gaji.

Untuk dapat memproduksi ASI yang bagus seorang ibu memerlukan waktu istirahat yang cukup dan diiringi dengan suasana hati dan suasana psikologis yang baik sehingga ketika memberikan ASI bisa maksimal. Menggendong bayi oleh ayah bayi setidaknya akan membantu ibu untuk bisa beristirahat. Peran bapak juga bisa dilakukan dengan bermain bersama anak, memijat Ibu, membantu pekerjaan rumah, memandikan anak, mengganti popok bayi.

Peran keluarga dalam membantu memberikan ASI perah kepada bayi ketika ibu bekerja dpat diberikan diantaranya dengan membantu menyimpan ASI di rumah dan memberikan ASI ketika ibu bekerja. Keluarga akan sangat membantu dalam perannya sebagai pendukung psikologis kepada Ibu, membantu ibu mengasuh anak dan membantu pekerjaan rumah agar ibu bisa berada dalam situasi terbaik. Peran atasan dan teman kerja bisa dilakukan dengan memberikan waktu untuk memerah ASI dan juga memberikan dukungan psikologis kepada ibu menyusui.

 

Penulis : Bidang SDK (Ags)

 

 

 

 

Kontak Kami

JL. Gondosuli No.6 Yogyakarta Kota Yogyakarta DIY 55231 Indonesia
dinkes@jogjaprov.go.id
+62274563153
(0274)512368

Kunjungan

  • Hari Ini

  • 20.910
  • Bulan Ini

  • 1.728.429
  • Total Kunjungan

  • 21.024.671