Detail Artikel


  • 14 Juni 2024
  • 2.428
  • Artikel

Gizi Bagi Pasien SLE (Lupus)

Penyakit autoimun terbagi menjadi 2 berdasarkan organ yang diserang, yaitu spesifik jaringan/ organ dan sistemik. Autoimun spesifik organ diantaranya multiple sclerosis, diabetes tipe 1, inflammatory bowel disease. Sedangkan autoimun sistemik diantaranya lupus erythematosus, sjogren’s syndrome dan rheumathoid arthritis. Autoimun umumnya disertai dengan peradangan sebagai akibat dari produksi sitokin pro inflamasi. Systemic Lupus Erythematosis (SLE) atau biasa disebut dengan lupus merupakan penyakit autoimun kompleks yang menyerang berbagai sistem dan organ tubuh sehingga memiliki morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Etiologi lupus masih belum diketahui secara pasti namun demikian lupus dapat terjadi karena kombinasi beberapa faktor antara lain genetik, hormon dan lingkungan. 

Penyakit lupus dikenal juga dengan penyakit “Seribu Wajah” karena hingga kini belum jelas diketahui penyebabnya. Lupus memiliki sebaran gambaran klinis yang luas serta tampilan perjalanan penyakit yang beragam, sehingga seringkali menimbulkan kekeliruan dalam upaya menganalisanya. Jaringan serta organ tubuh manapun berpotensi mendapat serangan dengan tingkat gejala yang ringan hingga parah. Pada tahun 2016, sekitar 550 jiwa atau 25% dari total penderita lupus meninggal dunia, tingginya angka kematian ini perlu mendapat perhatian. Sebagian besar penderita lupus adalah perempuan dari kelompok usia produktif (15-50 tahun). Namun juga dapat menyerang laki-laki, anak-anak, dan remaja. Berdasarkan Pusdatin Kementerian Kesehatan pada tahun 2017, RS Sardjito Yogyakarta, pada tahun 2015 hingga April 2017 menyumbang 10,6% dari seluruh kasus lupus di Indonesia

Diet tinggi kalori (kaya lemak jenuh atau pangan olahan dan rendah serat) dapat menggangu sistem kekebalan tubuh dalam membedakan jaringan tubuh sendiri yang mengarah pada autoimunitas. Zat gizi anti peradangan atau anti inflamasi seperti vitamin D, antioksidan, dan zinc dapat secara efektif mengurangi resiko autoimunitas melalui penurunan sitokin pro-inflamasi. Sebaliknya diet kaya lemak jenuh, kolesterol, gula, garam dan pangan olahan yang biasa dikenal dengan “Western diet” mendorong terjadinya peradangan. Pasien dengan berat badan berlebih dianjurkan untuk melakukan pembatasan kalori. Pada pasien lupus ginjal, gizi disesuaikan dengan diet untuk gangguan ginjal. Adapun peran zat gizi makro dan zat gizi mikro yang dapat menanggulangi lupus, diantaranya:

 

Zat gizi makro

  1. Lemak

Konsumsi minyak ikan yang kaya akan n-3 PUFA telah dilakukan terbukti berguna dalam mencegah dan/atau memperbaiki gejala lupus. Faktanya, berbagai studi klinis telah menilai hubungan antara suplemen makanan dan minyak ikan pada pasien dengan lupus, mengungkapkan ada sejumlah efek positif, termasuk dapat mengurangi risiko kardiovaskular, gejala inflamasi dan neuromotor serta memperbaiki gejala depresi dan kelelahan. Minyak zaitun murni atau biasa disebut extra virgin olive oil (EVOO) selain sebagai makanan fungsional yang bermanfaat, juga berperan dalam pendekatan preventif/paliatif pada pasien lupus.

  1. Protein

Secara khusus, diet protein yang dibatasi (0·6 g/kg per hari) dapat meningkatkan status gizi dan laju filtrasi glomerulus pada pasien lupus dengan penyakit ginjal kronis. Oleh karenanya pembatasan asupan protein perlu dilakukan. Asupan protein yang berlebihan juga telah terbukti mengakibatkan kehilangan mineral tulang pada pasien lupus remaja.

  1. Serat

Asupan serat cukup direkomendasikan pada pasien lupus karena efeknya dalam menurunkan risiko kardiovaskular, meningkatkan mobilitas usus dan mengurangi kadar penanda peradangan serum seperti protein C-reaktif, sitokin, dan homosistein. Namun perlu diperhatikan juga apabila asupan serat berlebihan dapat mengurangi penyerapan vitamin, mineral, dan protein

 

Zat gizi mikro

  1. Vitamin A

Vitamin A sangat penting untuk pemeliharaan sistem kekebalan dan bentuk fisiologis tubuh.

  1. Vitamin C

Vitamin C dapat memediasi respons stres oksidatif pada lupus dan, akibatnya, memberikan efek perbaikan pada komponen kekebalan tubuh yang abnormal dan peradangan. Perbedaan yang signifikan dalam respon terhadap suplementasi vitamin C antara pasien lupus dan subyek sehat, yaitu terdapat perbaikan DNA yang diamati pada pasien lupus.

  1. Vitamin D

Kekurangan vitamin D lebih umum terjadi pada pasien lupus dibandingkan populasi umum. Hal ini disebabkan pasien lupus disarankan untuk menghindari sinar matahari, guna mencegah kambuhnya penyakit. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa kekurangan vitamin D meningkatkan kecenderungan untuk menderita lupus sebagian karena sifat penyakit yang fotosensitif, memperburuk gejala, dan menurunkan kesehatan tulang. Konsumsi suplemen vitamin D sesuai kebutuhan pada pasien lupus dapat membantu mengatasi masalah tersebut.

  1. Mineral

Pembatasan diet zinc (Zn) juga menunjukkan efek memperbaiki fungsi ginjal pasien lupus.


 

Hingga saat ini lupus belum dapat disembuhkan. Pengobatan bertujuan untuk mendapatkan remisi panjang, mengurangi tingkat gejala, mencegah kerusakan organ, serta meningkatkan kesintasan. Dengan demikian pencegahan dan pengaturan pola makan dan asupan zat gizi pada pendertia lupus yang masuk perlu mendapat perhatian khusus.


 

Referensi:

  1. Kemenkes RI. 2023. Gizi dan Penyakit Autoimun. (Available at: https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/2283/gizi-dan-penyakit-autoimun)

  2. Kemenkes RI. 2018. Memahami Program Deteksi Dini Penyakti Lupus Ertematosus Sistemik. (Available at: https://p2p.kemkes.go.id/hari-lupus-sedunia-2018-memahami-program-deteksi-dini-penyakit-lupus-eritematosus-sistemik-les/ 

  3. Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.  2017. Situasi  Lupus  di  Indonesia.  Jakarta:  Pusdatin Kemenkes  RI.  

  4. Dewi, N. E. S., Handono, K., & Handono Kalim, S. K. (2021). Lupuspedia: Buku Pendampingan Pasien Lupus & Keluarga. Makassar: Nas Media Pus.

  5. Heldayani, I., & Setiadhi, R. (2024). Manifestasi dan tatalaksana lesi oral pada pasien penderita systemic lupus erythematosus (SLE): laporan kasus. Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, 36(4), 188-195.

  6. Aparicio-Soto, M., Sánchez-Hidalgo, M., & Alarcón-de-la-Lastra, C. (2017). An update on diet and nutritional factors in systemic lupus erythematosus management. Nutrition research reviews, 30(1), 118–137. https://doi.org/10.1017/S0954422417000026


 

Penulis:

Rina Chomawati 

(Mahasiswa Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Gadjah Mada)

 

Kontak Kami

JL. Gondosuli No.6 Yogyakarta Kota Yogyakarta DIY 55231 Indonesia
dinkes@jogjaprov.go.id
+62274563153
(0274)512368

Kunjungan

  • Hari Ini

  • 2.846
  • Bulan Ini

  • 3.094.979
  • Total Kunjungan

  • 31.537.021