Detail Artikel


  • 01 Agustus 2023
  • 6.110
  • Artikel

Memahami Long COVID

 

Pendahuluan

Pada awal tahun 2020, dunia menghadapi wabah pandemi COVID-19 yang disebabkan oleh coronavirus baru, SARS-CoV-2. Penyakit ini menyebar secara cepat di seluruh dunia, menyebabkan jutaan orang terinfeksi dan ribuan orang meninggal. Sebagian besar kasus COVID-19 berlangsung dengan gejala ringan hingga sedang, dan sebagian besar orang sembuh dalam beberapa minggu setelah infeksi awal. Namun, ada sekelompok orang yang mengalami gejala yang berkepanjangan dan terus berlanjut setelah pemulihan dari fase akut infeksi COVID-19. Fenomena ini dikenal sebagai "Long COVID" atau "Post-Acute Sequelae of SARS-CoV-2 Infection" (PASC).

Definisi Long COVID mengacu pada kondisi di mana individu masih mengalami gejala setelah pemulihan dari fase akut infeksi COVID-19. Gejala Long COVID dapat berlangsung selama berhari-hari hingga berbulan-bulan setelah infeksi awal, bahkan setelah virus dibersihkan dari tubuh mereka. Kondisi ini dapat sangat bervariasi dari satu individu ke individu lainnya. Long COVID dapat mempengaruhi orang dari segala usia, termasuk mereka yang mengalami infeksi awal dengan gejala ringan atau bahkan tanpa gejala.

Berdasarkan definisi yang dikeluarkan oleh PASC Initiative Working Group, Long COVID dibagi menjadi dua kategori, yaitu "Long COVID-19" yang mencakup gejala yang berlanjut selama 4 hingga 12 minggu setelah infeksi awal, dan "Post-Acute Sequelae of SARS-CoV-2 Infection" (PASC) yang mencakup gejala yang berlangsung lebih dari 12 minggu setelah infeksi awal.

Penelitian telah menunjukkan bahwa Long COVID bukanlah kejadian langka. Meskipun prevalensi pastinya masih belum jelas karena variasi dalam desain penelitian dan populasi, diperkirakan sekitar 10% hingga 30% penyintas COVID-19 mengalami gejala yang menetap di luar fase akut infeksi. Angka yang cukup besar ini menyadarkan kita akan adanya kebutuhan mendesak dalam penelitian dan sumber daya lebih lanjut untuk mengatasi.

 

Gejala Long COVID

Long COVID dapat bermanifestasi sebagai berbagai macam gejala, mempengaruhi berbagai sistem organ dalam tubuh. Beberapa gejala yang paling sering dilaporkan meliputi :

1. Kelelahan dan Malaise :

Kelelahan berkepanjangan dan melemahkan yang berlangsung selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan, membatasi kemampuan individu untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

2. Masalah Pernapasan :

Sesak napas dan nyeri dada yang terus-menerus meskipun individu telah pulih dari infeksi pernapasan akut, yang dapat sangat menyusahkan bagi individu yang tidak pernah dirawat di rumah sakit selama infeksi COVID-19 akut mereka.

3. Gejala Neurologis :

Gangguan kognitif, masalah ingatan, kesulitan berkonsentrasi, dan bahkan depresi dan kecemasan telah diamati pada beberapa pasien Long COVID.

4. Komplikasi Kardiovaskular :

Peradangan otot jantung (miokarditis), aritmia, peredaran darah dan masalah kardiovaskular lainnya yang telah dilaporkan terjadi pada sebagian individu dengan Long COVID.

5. Gangguan Penciuman dan Perasa :

Hilangnya atau distorsi rasa dan penciuman, yang dikenal sebagai anosmia atau hiposmia, bisa berlangsung berbulan-bulan setelah pemulihan dari infeksi awal.

6. Masalah Neurologis :

Gangguan kognitif seperti kesulitan berkonsentrasi, kebingungan, dan hilangnya daya ingat. Beberapa individu melaporkan kehilangan kesadaran yang berulang atau sakit kepala yang parah.

7. Nyeri Otot dan Sendi :

Nyeri otot dan sendi yang berkepanjangan dan menyebabkan ketidaknyamanan saat bergerak.

8. Gangguan Pencernaan :

Beberapa individu melaporkan masalah pencernaan, seperti mual, muntah, diare, atau masalah perut lainnya.

9. Masalah Kulit :

Beberapa orang dilaporkan memiliki gejala berupa munculnya ruam kulit atau masalah dermatologis lainnya.

Dalam beberapa kasus, individu dengan Long COVID juga melaporkan masalah kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, dan stres yang berkepanjangan akibat kondisi mereka yang kronis dan mengganggu.

Penyebab Long COVID

Meskipun Long COVID telah menjadi topik penelitian yang intensif, faktor penyebab dan mekanisme yang tepat masih belum sepenuhnya dipahami. Beberapa hipotesis telah diajukan untuk menjelaskan mengapa beberapa orang mengalami gejala yang berkepanjangan setelah pemulihan dari COVID-19 sementara yang lain tidak. Beberapa faktor yang mungkin berperan dalam Long COVID antara lain.

1. Persistensi Virus:

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa virus SARS-CoV-2 masih dapat dideteksi dalam jaringan tubuh beberapa pasien Long COVID, meskipun virus ini telah dibersihkan dari saluran pernapasan atas.Ada kemungkinan bahwa virus tetap ada di jaringan atau organ tertentu pada beberapa individu, yang menyebabkan peradangan dan gejala kronis.

2. Gangguan Sistem Imun :

Long COVID mungkin disebabkan oleh respons sistem imun yang tidak tepat atau berlebihan terhadap virus, menyebabkan peradangan kronis yang merusak berbagai organ tubuh. Long COVID dapat terjadi akibat respons imun yang tidak seimbang yang menyebabkan peradangan berkepanjangan dan kerusakan pada berbagai organ.

3. Disfungsi Autoimun:

Long COVID dapat menyebabkan reaksi autoimun yang menyebabkan tubuh menyerang jaringan dan organnya sendiri. Dalam beberapa kasus, gejala didorong oleh respons autoimun yang dipicu oleh infeksi awal.

4. Gangguan Pembuluh Darah:

Virus SARS-CoV-2 dikenal menyebabkan peradangan pada pembuluh darah, yang berkemungkinan berkontribusi pada masalah kardiovaskular dan sirkulasi darah menyebabkan komplikasi vaskular, mengakibatkan kerusakan berkelanjutan pada pembuluh darah.

5. Gangguan Neurologis:

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 dapat menginfeksi otak dan sistem saraf pusat, yang mungkin menyebabkan gangguan neurologis pada pasien Long COVID. Dampak langsung virus pada sistem saraf pusat menjadi penjelas beberapa gejala neurologis pada pasien Long COVID.

6. Faktor Lingkungan dan Genetik:

Beberapa individu mungkin memiliki predisposisi genetik yang meningkatkan risiko mengembangkan Long COVID, atau ada faktor lingkungan tertentu yang mempengaruhi tingkat keparahan dan durasi gejala Long COVID.

Diagnosis Long COVID menjadi tantangan karena heterogenitas gejala dan kurangnya biomarker spesifik. Dalam hal ini penyedia layanan kesehatan dapat menggunakan kombinasi riwayat medis, pemeriksaan fisik, dan pengujian yang ditujukan untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab lain dari gejala tersebut.

 

Dampak pada Individu dan Sistem Kesehatan

Long COVID dapat berdampak signifikan pada kualitas hidup individu yang terkena, menghambat kemampuan mereka untuk bekerja, bersosialisasi, dan berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari. Kurangnya pemahaman dan pengobatan yang efektif untuk Long COVID juga menyebabkan frustrasi dan kecemasan di antara pasien.

Selain itu, beban Long COVID pada sistem pelayanan kesehatan tidak dapat diremehkan. Kebutuhan akan perawatan dan dukungan berkelanjutan untuk semakin banyak pasien Long COVID membebani sumber daya perawatan kesehatan. Selain itu, implikasi ekonomi dari Long COVID sangat signifikan karena hilangnya produktivitas dan peningkatan pemanfaatan layanan kesehatan.

 

Kesimpulan

Long COVID adalah kondisi kompleks dan berkembang yang menimbulkan tantangan signifikan bagi individu dan sistem pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Seiring kami terus mempelajari lebih lanjut tentang kondisi ini, sangat penting untuk mendorong penelitian lebih lanjut, mendukung individu yang terkena dampak, dan mengembangkan strategi manajemen yang komprehensif. Hanya melalui upaya kolektif kita dapat berharap untuk meringankan beban Long COVID dan membantu mereka yang bertahan dalam pertempuran berkepanjangan dengan gejala sisa akut SARS-CoV-2.

 

Penulis : Bidang SDK (ags)

Kontak Kami

JL. Gondosuli No.6 Yogyakarta Kota Yogyakarta DIY 55231 Indonesia
dinkes@jogjaprov.go.id
+62274563153
(0274)512368

Kunjungan

  • Hari Ini

  • 14.373
  • Bulan Ini

  • 1.728.429
  • Total Kunjungan

  • 20.832.064