Detail Artikel


  • 20 Agustus 2023
  • 2.176
  • Artikel

KTT Global tentang Pengobatan Tradisional Pertama di Dunia

 

Pengantar

       Selama berabad-abad, pengetahuan tradisional, adat, dan leluhur telah menjadi sumber integral untuk kesehatan di rumah tangga dan masyarakat, dan terus menjadi bagian penting dari perawatan kesehatan di banyak wilayah. Dari 194 negara anggota WHO di dunia, sebanyak 170 negara telah melaporkan penggunaan obat-obatan herbal, akupunktur, yoga, terapi tradisional dan bentuk obat tradisional lainnya. Banyak yang telah mengakui bahwa obat tradisional sebagai sumber perawatan kesehatan yang berharga dan telah mengambil langkah untuk mengintegrasikan praktik, produk, dan praktisi ke dalam sistem kesehatan nasional mereka.

       Saat ini, pengobatan tradisional telah menjadi fenomena global. Permintaan semakin meningkat, dengan pasien mencari hak pilihan dan kepemilikan yang lebih besar atas kesehatan dan kesejahteraan mereka. Bagi jutaan orang, terutama mereka yang tinggal di daerah terpencil dan pedesaan, ini terus menjadi tujuan pertama untuk kesehatan dan kesejahteraan, menawarkan perawatan yang dapat diterima, tersedia, dan terjangkau secara budaya.

 

KTT Pengobatan Tradisional WHO 2023

       Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Global Pengobatan Tradisional WHO 2023 telah diselenggarakan oleh Pusat Pengobatan Tradisional Global WHO, dan diselenggarakan bersama Pemerintah India, yang memegang kepresidenan G20 pada tahun 2023 dengan tema “Satu Bumi, Satu Keluarga, Satu Masa Depan”. Ini akan menjadi yang pertama dari rangkaian KTT global WHO tentang pengobatan tradisional, yang akan diadakan dua tahun sekali di berbagai wilayah WHO.

       WHO menyelenggarakan Traditional Medicine Global Summit pada 17 dan 18 Agustus 2023 di Gandhinagar, Gujarat, India. Pertemuan in bertujuan mengeksplorasi peran pengobatan tradisional, komplementer, dan integratif dalam mengatasi tantangan kesehatan dan mendorong kemajuan kesehatan global dan pembangunan berkelanjutan.

       Konferensi tingkat tinggi (KTT) akan mengeksplorasi cara dalam meningkatkan kemajuan ilmiah dan mewujudkan potensi pengetahuan berbasis bukti dalam penggunaan pengobatan tradisional untuk kesehatan dan kesejahteraan masyarakat di seluruh dunia. Direktur Jenderal WHO menyampaikan bahwa pengobatan tradisional dapat memainkan peran penting dan katalitik dalam mencapai tujuan cakupan kesehatan universal dan memenuhi target terkait kesehatan global. Menghadirkan pengobatan tradisional ke dalam fasilitas pelayanan kesehatan secara tepat, efektif, dan aman dengan berdasar bukti ilmiah terbaru, dapat membantu menjembatani kesenjangan akses bagi jutaan orang di seluruh dunia.

       Saat ini, pengobatan tradisional dan komplementer sudah mapan di banyak bagian dunia. Jenis pengobatan ini memainkan peran penting dalam budaya, kesehatan, dan kesejahteraan banyak komunitas di dunia. Di beberapa negara, pengobatan ini merupakan bagian penting dari ekonomi sektor kesehatan.

 

Keanekaragaman Hayati dan Kearifan Lokal

       Keanekaragaman hayati dan kearifan lokal merupakan pilar dasar pengobatan tradisional serta kesehatan dan kesejahteraan, khususnya bagi Masyarakat Adat. Sekitar 80 persen keanekaragaman hayati dunia berada di wilayah atau tanah adat, sementara konservasi keanekaragaman hayati menjadi isu utama terkait dengan penggunaan obat tradisional secara berkelanjutan.

       Lokakarya global WHO tentang keanekaragaman hayati, pengetahuan asli, kesehatan, dan kesejahteraan telah dilaksanakan di Brasil dari tanggal 25 hingga 28 Juli. Lokakarya dilaksanakan untuk lebih memahami hubungan antara keanekaragaman hayati, pengetahuan tradisional, dan kesehatan manusia. Hasil lokakarya tersebut selanjutnya telah disusun dalam bentuk rekomendasi dan telah dipresentasikan pada KTT.

       Pengelolaan keanekaragaman hayati yang berkelanjutan dalam menghadapi krisis iklim akan mendorong identifikasi dan berbagi praktik terbaik, inisiatif, dan kerangka kerja legislatif tentang perlindungan pengetahuan tradisional, inovasi, dan akses serta pembagian manfaat yang adil oleh berbagai negara. Berbagai diskusi berfokus pada peningkatan prospek kegiatan ekonomi global terkait pengobatan tradisional, inovasi berbasis pengetahuan setempat dalam perawatan kesehatan, penerapan undang-undang dan peraturan kekayaan intelektual, serta penggunaan dan promosi pengobatan tradisional dan leluhur melalui dialog antarbudaya untuk mendukung kesehatan masyarakat.

 

Pengembangan Ilmu Pengobatan Tradisional

       Pengobatan tradisional telah berkontribusi pada terobosan penemuan medis dan terus menjanjikan. Metode penelitian seperti etnofarmakologi dan reverse pharmacology,  dapat membantu mengidentifikasi obat baru yang aman dan efektif secara klinis, sedangkan penerapan teknologi baru dalam kesehatan dan kedokteran, misalnya genomik, teknologi diagnostik baru, dan kecerdasan buatan, dapat membuka batas pengetahuan baru pada pengobatan tradisional.

       Di tengah perluasan penggunaan obat tradisional di seluruh dunia, keamanan, khasiat dan kontrol kualitas produk tradisional dan terapi berbasis prosedur tetap menjadi prioritas penting bagi otoritas kesehatan dan masyarakat. Alami tidak selalu berarti aman, dan penggunaan selama berabad-abad bukanlah jaminan kemanjuran, oleh karena itu metode dan proses ilmiah harus diterapkan untuk memberikan bukti kuat yang diperlukan dalam merekomendasi obat tradisional di pedoman.

       Pengembangan ilmu pengetahuan tentang pengobatan tradisional perlu dilakukan dengan standar ketat yang sama seperti di bidang lainnya. Diperlukan pemikiran baru tentang metodologi untuk mengatasi pendekatan yang lebih holistik dan kontekstual dan memberikan bukti yang cukup konklusif dan kuat untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan (Dr John Reeder, Direktur Program Khusus WHO untuk Penelitian dan Pelatihan Penyakit Tropis dan Direktur Departemen Riset Kesehatan).

       Konferensi tingkat tinggi pada tanggal 17-18 Agustus 2-23 di India tersebut akan mengeksplorasi penelitian dan mengevaluasi pengobatan tradisional, termasuk metodologi yang dapat digunakan untuk mengembangkan agenda penelitian global dan prioritas dalam pengobatan tradisional, serta tantangan dan peluang berdasarkan penelitian 25 tahun dalam pengobatan tradisional. Temuan dari tinjauan sistematis obat tradisional dan kesehatan, peta bukti efektivitas klinis, dan peta penelitian global kecerdasan buatan pada obat tradisional disajikan dalam pertemuan.

       Dengan basis bukti yang lebih kuat, akan membuka berbagai negara untuk mengembangkan mekanisme dan panduan kebijakan yang tepat dalam mengatur, memastikan kontrol kualitas dan memantau praktik, praktisi dan produk obat tradisional, sesuai dengan konteks dan kebutuhan nasional.

 

Pengembangan Pengobatan Tradisional Global

       Program pengobatan tradisional WHO dimulai pada tahun 1976, hari ini, melalui Unit Pengobatan Tradisional, Pelengkap dan Integratifnya, WHO bekerjasama dengan berbagai negara dalam mengembangkan standar dan tolok ukur untuk pelatihan dan praktik berbagai sistem pengobatan tradisional, dan untuk integrasi berbasis bukti mereka dalam Klasifikasi Penyakit Internasional (ICD) .

       Revisi ke-11 ICD (ICD-11), yang mulai berlaku pada 1 Januari 2022, mencakup bab tentang pengobatan tradisional untuk pengkodean ganda dan opsional, yang didasarkan pada pengobatan tradisional yang berasal dari Pengobatan Tiongkok kuno (sekarang umum digunakan di Tiongkok, Jepang, Republik Korea dan tempat lain di seluruh dunia). WHO sedang mengembangkan modul berikutnya dalam bab pengobatan tradisional, yang akan mencakup istilah diagnostik sistem pengobatan Ayurveda, Unani dan Siddha.

       Pada tahun 2022, dengan dukungan Pemerintah India, WHO mendirikan Pusat Pengobatan Tradisional Global WHO sebagai tanggapan atas meningkatnya minat dan permintaan global akan pengobatan tradisional berbasis bukti. Ini adalah pusat global WHO pertama dan satu-satunya yang didedikasikan untuk pengobatan tradisional. Pusat pengetahuan ini berfokus pada kemitraan, bukti, data, keanekaragaman hayati, dan inovasi untuk mengoptimalkan kontribusi pengobatan tradisional terhadap kesehatan global, cakupan kesehatan universal, dan pembangunan berkelanjutan, serta dipandu oleh penghormatan terhadap warisan, sumber daya, dan hak lokal.

       Survei global ketiga tentang pengobatan tradisional dirancang untuk memantau kemajuan dalam kinerja sistem tradisional dan pelengkap, untuk lebih memahami peran, fungsi, dan dampaknya dalam sistem kesehatan negara dan untuk menyelaraskan dengan WHO dan kerangka pemantauan global. Hasilnya akan mendukung pengembangan strategi pengobatan tradisional baru 2025-2034. Survei ini dibangun berdasarkan survei global sebelumnya yang dilakukan pada tahun 2001 dan 2012, dengan data tindak lanjut yang dikumpulkan antara tahun 2016 dan 2018. Hasilnya dipublikasikan dalam laporan Global WHO 2019 tentang pengobatan tradisional dan komplementer. Dua indikator T&CM dimasukkan dalam daftar referensi Global dari 100 Indikator inti kesehatan (dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan terkait kesehatan).

 

Disadur dari : https://www.who.int/news/item/10-08-2023-who-convenes-first-high-level-global-summit-on-traditional-medicine-to-explore-evidence-base--opportunities-to-accelerate-health-for-all

Penulis : Bidang SDK (ags)

Kontak Kami

JL. Gondosuli No.6 Yogyakarta Kota Yogyakarta DIY 55231 Indonesia
dinkes@jogjaprov.go.id
+62274563153
(0274)512368

Kunjungan

  • Hari Ini

  • 15.590
  • Bulan Ini

  • 1.728.429
  • Total Kunjungan

  • 20.833.281