Detail Artikel


  • 02 Januari 2024
  • 484
  • Artikel

Emerging dan Re-Emerging Diseases di Indonesia Sepanjang Tahun 2023

Selama Tahun 2023 Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan beberapa surat kewaspadaan terkait penyakit emerging atau re-emerging. Penyakit infeksi emerging menurut WHO adalah penyakit yang muncul dalam suatu populasi untuk pertama kalinya, atau yang mungkin telah ada sebelumnya tetapi insidensinya meningkat dengan pesat pada area geografis tertentu. Penyakit infeksi emerging meliputi penyakit baru yang disebabkan oleh patogen yang sebelumnya tidak diketahui atau strain baru dari patogen yang telah diketahui. Munculnya penyakit infeksi emerging dapat terjadi karena adanya mode transmisi baru, perubahan lingkungan atau mutasi virulensi baru (Slingenbergh et al, 2013). Dilansir dari website Kementerian Kesehatan https://infeksiemerging.kemkes.go.id/ hingga tanggal 28 Desember 2023, selain Covid-19, terdapat tiga kasus konfirmasi penyakit emerging atau re-emerging yang dilaporkan di Indonesia sepanjang Tahun 2023 yaitu Monkeypox, Legionellosis, dan Polio. Berikut penjelasan singkat tentang ketiga penyakit tersebut: 

Monkeypox: Sejarah, Gejala, dan Upaya Pengendalian 

Pendahuluan

Monkeypox pertama kali diidentifikasi pada tahun 1958 di wilayah Afrika Barat meliputi Republik Demokratik Kongo, Kamerun, dan Nigeria. Penyakit ini muncul pada hewan pengerat dan primata di hutan tropis. Pada awal 1970-an, penyakit ini pertama kali didiagnosis pada manusia. Diduga bahwa infeksi pada manusia terjadi karena kontak langsung dengan hewan-hewan yang terinfeksi, terutama hewan pengerat seperti tikus dan monyet.

Penyebab dan Penularan

Monkeypox adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus monkeypox. Virus ini termasuk dalam keluarga Orthopoxvirus yang sama dengan virus variola penyebab penyakit cacar. Penularan pada manusia dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, seperti monyet atau hewan pengerat, atau melalui kontak dengan cairan tubuh atau benda yang terkontaminasi. Meskipun sebagian besar kasus terdapat pada wilayah Afrika Barat dan Tengah, kasus monkeypox juga pernah dilaporkan pada negara-negara non endemis seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Singapura.

Gejala Monkeypox

Gejala monkeypox pada manusia mirip dengan cacar, mencakup demam, sakit kepala, kelelahan, limfadenopati (pembengkakan kelenjar getah bening), dan ruam yang berkembang menjadi vesikula lesi dan keropeng. 

Penanganan dan Pencegahan

Perawatan dan pengobatan monkeypox terutama bersifat suportif untuk mengatasi gejala. Langkah-langkah pencegahan yang dapat diterapkan adalah menghindari kontak dengan hewan yang mungkin terinfeksi, mempraktekkan perilaku hidup bersih dan sehat yang baik, membatasi kontak dengan individu yang terinfeksi, menerima vaksinasi jika tersedia, mengenakan perlengkapan pelindung saat merawat pasien, serta peningkatan kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap cara penularan dan pencegahan penyakit ini juga dapat mengurangi resiko penularan.

Penutup

Upaya pencegahan, deteksi dini, dan isolasi kasus-kasus yang terinfeksi memainkan peran penting dalam mengendalikan penyebaran monkeypox. Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta mematuhi pedoman pencegahan yang dikeluakan oleh otoritas kesehatan di wilayah menjadi langkah-langkah yang dapat diambil untuk pencegahan dan pengendalian penyakit monkeypox.

Legionellosis: Penyakit Tersembunyi di Balik Tetesan Air 

Pendahuluan

Legionellosis adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri Legionella. Bakteri ini dapat berkembang biak di lingkungan air, khususnya pada air yang mengalir seperti dalam sistem pendingin udara. Legionella diidentifikasi setelah wabah pneumonia tahun 1976 di Philadelphia. Terdapat 60 spesies Legionella yang berbeda dan 20 di antaranya dapat menyebabkan panyakit Legionellosis pada manusia. Legionella pneumophilla merupakah spesies yang paling umum menyebabkan penyakit pada manusia.

Penyebab dan Penularan

Penyebab penyakit legionellosis adalah bakteri Legionella yang umumnya ditularkan melalui inhalasi tetesan air yang mengandung bakteri. Ketika orang menghirup udara yang mengandung tetesan air yang mengandung bakteri Legionella, bakteri dapat masuk ke paru-paru dan menyebabkan infeksi. WHO menyebutkan hingga saat ini belum ada laporan penularan legionellosis dari manusia ke manusia. Faktor risiko lain yang mendorong fatalitas legionellosis adalah paparan asap rokok, usia tua, dan kondisi kesehatan yang melemah.

Gejala Legionellosis

Legionellosis menunjukkan gejala seperti demam, batuk, nyeri otot, sakit kepala, mual, diare, hingga sesak napas. Pada beberapa kasus, infeksi dapat menjadi bentuk pneumonia yang parah yang memerlukan rawat inap hingga kematian. Diagnosis legionellosis biasanya dilakukan melalui tes laboratorium seperti kultur bakteri atau uji antigen urin.

Pencegahan dan Pengendalian

Pencegahan legionellosis melibatkan pengelolaan dan pemeliharaan yang baik terhadap sistem air. Hal ini meliputi membersihkan dan mendesinfeksi tempat penampungan air, memastikan aliran air baik, dan melakukan pemantauan secara teratur. Dilansir dari https://infeksiemerging.kemkes.go.id cara terbaik mencegah penyakit legionellosis adalah dengan menghindari kondisi air yang dapat menyebabkan bakteri Legionella berkembang. Hal tersebut meliputi perawatan dan membersihkan menara pendingin udara dan condenser untuk mencegah berkembangnya Legionella minimal 2 kali setahun. Menjaga agar suhu pada pemanas air pada suhu 60 derajat Celcius dan suhu air pada keran dengan suhu minimal 50 derajat Celcius, serta menghindari kondisi yang dapat menyebabkan air tergenang.

Penutup

Kesadaran masyarakat tentang legionellosis penting untuk mencegah infeksi. Edukasi tentang tanda dan gejala penyakit, faktor risiko, serta praktik-praktik yang dapat mengurangi risiko penularan sangat diperlukan. Peningkatan pemahaman di kalangan masyarakat dan profesional kesehatan dapat membantu mencegah kasus legionellosis dan respons terhadap potensi wabah.

Polio: Menuju Generasi Bebas Polio

Pendahuluan

Polio, atau poliomyelitis, adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus poliovirus. Upaya vaksinasi yang luas telah menurunkan secara drastis kasus polio di seluruh dunia. Walaupun demikian penyakit ini masih menjadi perhatian kesehatan global, terutama di beberapa wilayah yang masih melaporkan kasus polio.

Penyebab dan Penularan

Poliovirus menyebar melalui tinja orang yang terinfeksi dan dapat menular melalui makanan dan air yang terkontaminasi. Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan terhadap infeksi polio. Ketika seorang anak terinfeksi virus polio, virus masuk ke dalam tubuh melalui mulut dan berkembang biak di usus. Virus dibuang ke lingkungan melalui feses kemudian menyebar dengan cepat melalui komunitas, terutama pada lingkungan dengan sanitasi yang buruk. Polio juga dapat menyebar ketika makanan atau minuman terkontaminasi oleh feses. Virus ini menyerang sistem saraf, dapat menyebabkan kelumpuhan, dan dalam beberapa kasus dapat berakibat fatal. Kebanyakan orang yang terinfeksi virus polio tidak memiliki tanda-tanda penyakit dan tidak sadar bahwa mereka telah terinfeksi. Orang-orang tanpa gejala ini membawa virus di dalam usus mereka dan dapat menyebarkan infeksi ke orang lain.

Gejala Polio

Gejala awal polio dapat berupa demam, kelelahan, sakit kepala, muntah, kekakuan di leher dan nyeri pada anggota badan.

Sejarah Perjuangan melawan Polio

Sebelum vaksin polio dikembangkan, polio menjadi penyakit yang menakutkan karena jumlah kasus yang banyak dengan severity tinggi hingga menyebabkan kelumpuhan permanen. Pada tahun 1950-an, upaya intensif untuk mengembangkan vaksin polio dilakukan dengan melibatkan Rotary International, World Health Organization (WHO), dan organisasi kesehatan lainnya. Vaksin inaktif polio (IPV) dan vaksin oral polio (OPV) telah berhasil mengurangi jumlah kasus polio di dunia secara drastis. Upaya pemberantasan polio diperkuat melalui komitmen Global Polio Eradication Initiative (GPEI) pada tahun 1988 melalui insiasi berbagai mitra diantaranya WHO, UNICEF, Rotary International, dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC). Selain penguatan vaksinasi polio, upaya pemberantasan polio dilakukan melalui penguatan surveilans AFP (Acute Flaccid Paralysis) untuk memastikan tidak adanya poliovirus di masyarakat.

Penutup

Vaksinasi menjadi pilar utama dalam pemberantasan penyakit polio. Pendidikan masyarakat tentang pentingnya vaksinasi, dukungan dari pemerintah dan organisasi kesehatan, serta kerja sama internasional yang berkelanjutan menjadi kunci untuk memastikan bahwa upaya pemberantasan penyakit polio terus berlanjut dan dunia dapat mencapai status bebas polio.

Kontak Kami

JL. Gondosuli No.6 Yogyakarta Kota Yogyakarta DIY 55231 Indonesia
dinkes@jogjaprov.go.id
+62274563153
(0274)512368

Kunjungan

  • Hari Ini

  • 16.879
  • Bulan Ini

  • 1.728.429
  • Total Kunjungan

  • 20.834.570