Detail Artikel


  • 27 November 2016
  • 899
  • Artikel

UNTUK CEGAH DAN KURANGI RISIKO DIABETES, PERLU DETEKSI DINI

10-15 tahun yang lalu diprediksi Indonesia akan mengalami transisi epidemologi, yaitu suatu perubahan dari suatu penyakit menular menjadi penyakit tidak menular (PTM). Namun banyak orang tidak menyadari hal itu bukan cuma sekedar wacana, tetapi sudah terjadi transisi epidemologi tersebut, dan kenyataannya 5 tahun terakhir ini terjadi peningkatan kasus PTM.

Penyakit tidak menular (PTM) ini tidak hanya dilihat dari mordibitas dan mortalitas, tetapi juga dalam aspek kronisitas. PTM dalam hal ini salah satunya adalah diabetes mengakibatkan suatu burden bahkan dapat mengakibatkan Multiple Burden, baik dari aspek ekonomi aspek politik, dan kesehatan.

Berdasarkan data WHO, pada tahun 2015 terdapat 415 juta penyandang Diabetes di seluruh Indonesia, lebih lanjut bila angka tersebut diprediksi bertambah menjadi 642 juta penyandang pada tahun 2040.

Di Indonesia, data Riskesdas menunjukkan peningkatan prevalensi diabetes di Indonesia dari 5,7% (2007) menjadi 6,9% atau sekitar 9,1 juta (2013). Data International Diabetes Federation (IDF) 2015 juga menyatakan jumlah estimasi penyandang Diabetes di Indonesia diperkirakan sebesar 10 juta dengan menempati urutan ketujuh tertinggi setelah China, India, Amerika, Brazil, Rusia dan Meksiko. Diperkirakan pada tahun 2040, jika tidak dicegah maka angka penyandang Diabetes akan meningkat menjadi 16,2 juta di Indonesia.

80% kasus diabetes sendiri dapat dicegah, bila seandainya masyarakat mau melakukan cek kesehatan, namun kenyataannya 1 dari 2 orang dengan diabetes tidak tahu dirinya memiliki diabetes. Pada akhirnya banyak pasien yang ditemukan sudah dalam tahap lanjut dan tejadi komplikasi penyakit seperti, serangan Jantung dan stroke, infeksi kaki yang bila sudah berat berakibat diamputasi, dan gagal ginjal stadium akhir.

Terdapat 3 prinsip upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk pencegahan dan Pengendalian penyakit. Yang pertama, adalah mendeteksi penyakit dengan melakukan deteksi dini atau diagnosa awal. Hal ini merupakan hal yang mutlak untuk dilakukan karena untuk mengetahui kondisi tubuh sehingga tidak terlambat dalam penanganan. Selanjutnya, adalah melakukan prevensi. Upaya prevensi yang baik adalah melakukan upaya intervensi terhadap faktor risiko.

Upaya yang ketiga adalah bagaimana melakukan respon. Upaya respon tidak hanya dilakukan di fasyankes, tetapi juga dilakukan oleh berbagai pihak, seperti dilingkup keluarga, komunitas, dan swasta untuk meningkatkan kewaspadaan di masyarakat terhadap penyakit tidak menular (PTM) khususnya Diabetes.

Selain itu, masyarakat perlu melakukan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan juga menerapkan CERDIK. Cerdik mempunyai makna; Cek kesehatan secara berkala; Enyahkan asap rokok; Rajin aktifitas fisik; Diet sehat dan seimbang; Istirahat yang cukup; dan Kelola stres. Mengelolah stres itu penting, karena stres sendiri merupakan salah satu faktor pencetus penyakit, tambahnya.

(Sumber : kemkes.go.id)

 

Kontak Kami

JL. Gondosuli No.6 Yogyakarta Kota Yogyakarta DIY 55231 Indonesia
dinkes@jogjaprov.go.id
+62274563153
(0274)512368

Kunjungan

  • Hari Ini

  • 200
  • Bulan Ini

  • 617.886
  • Total Kunjungan

  • 6.737.642