Detail Artikel


  • 27 Juli 2023
  • 16.243
  • Artikel

Anthrax: Sejarah, Penyebab, Gejala, dan Pencegahannya

Pendahuluan

Anthrax adalah penyakit yang mematikan dan telah menjadi momok bagi manusia selama berabad-abad. Penyakit ini menyebabkan kepanikan di kalangan masyarakat karena kemampuannya untuk menyebar dengan cepat dan mengakibatkan kematian yang mendalam. Meskipun langkah-langkah pengendalian telah diambil untuk mengurangi penyebarannya, pengetahuan tentang anthrax tetaplah penting untuk melindungi masyarakat dari bahaya yang timbul. Artikel ini akan membahas lebih lanjut mengenai penyakit anthrax, termasuk penyebab, gejala, metode penyebaran, diagnosis, dan langkah-langkah pencegahan.

Anthrax adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri bernama Bacillus anthracis. Meskipun kasus anthrax pada manusia jarang terjadi, penyakit ini telah dikenal sejak zaman kuno dan tetap menjadi ancaman kesehatan yang serius. Bakteri Bacillus anthracis dapat menyebabkan infeksi serius pada hewan mamalia, termasuk manusia. Artikel ini akan mengulas lebih lanjut tentang penyakit anthrax, termasuk sejarah, penyebab, gejala, serta langkah-langkah pencegahan yang dapat diambil.

 

Sejarah

Anthrax telah dikenal oleh manusia selama ribuan tahun. Salah satu catatan tertua tentang anthrax ada dalam tulisan kuno kira-kira tahun 1500 SM di Mesir, yang menggambarkan gejala penyakit ini pada hewan ternak. Selama berabad-abad, anthrax menjadi masalah serius dalam industri peternakan, terutama pada hewan seperti sapi, domba, dan kambing. Pada abad ke-19, Louis Pasteur memainkan peran penting dalam memahami penyakit ini dan mengembangkan vaksin anthrax pertama.

 

Penyebab

Anthrax disebabkan oleh bakteri bernama Bacillus anthracis. Bakteri ini memiliki kemampuan untuk membentuk spora yang tahan lama dan bisa bertahan dalam kondisi ekstrem. Spora ini adalah bentuk dorman dari bakteri, dan ketika mereka menemukan lingkungan yang cocok, mereka berubah menjadi bentuk aktif dan mulai berkembang biak. Bacillus anthracis menghasilkan racun yang sangat kuat yang berkontribusi pada gejala parah yang terkait dengan penyakit ini. Hewan mamalia, seperti sapi, kambing, domba, dan manusia, dapat terinfeksi melalui tiga cara utama:

     Anthrax Kulit (Cutaneous Anthrax):

Ini adalah bentuk paling umum dari penyakit ini pada manusia. Infeksi terjadi ketika spora Bacillus anthracis masuk ke dalam tubuh melalui luka atau goresan pada kulit. Penularan terjadi ketika seseorang menyentuh kulit, bulu, tulang, atau daging hewan yang terinfeksi. Namun, ada kemungkinan bahwa seseorang juga dapat terinfeksi anthrax kulit dari kontak dengan luka di kulit penderita antraks. Anthrax kulit merupakan jenis antraks yang paling sering terjadi, tetapi tidak berbahaya. Gejala anthrax kulit baru berkembang 1–7 hari setelah paparan. Gejala umumnya termasuk pembentukan lecet berwarna hitam di kulit (lesi eschar), kemerahan, bengkak, demam, dan menggigil. Case fatality rate nya mencapai 25%.

     Anthrax Paru (Pulmonary Anthrax):

Anthrax pernapasan merupakan antraks yang paling berbahaya. Bentuk ini lebih jarang tetapi lebih serius. Infeksi biasanya terjadi ketika seseorang menghirup spora bakteri dari udara yang terkontaminasi. Infeksi akibat anthrax pernapasan biasanya baru berkembang setelah 7 hari hingga 2 bulan sesudah paparan terhadap spora. Gejala awal mirip dengan flu, tetapi kemudian berkembang menjadi sesak napas, demam tinggi, batuk berdarah, dan bisa berujung pada kematian. Case fatality rate nya mencapai 80%

     Anthrax Usus (Gastrointestinal Anthrax):

Bentuk ini juga jarang pada manusia dan terjadi setelah mengonsumsi daging hewan yang terinfeksi atau mati akibat antraks, terutama yang dimasak kurang matang. Gejala meliputi demam, mual, muntah darah, diare darah, dan peradangan usus yang serius. Gejala anthrax pencernaan umumnya muncul 1–7 hari setelah paparan bakteri. Case fatality rate nya mencapai 25-75%

 

Metode Penyebaran

Anthrax dapat menyerang hewan dan manusia, serta menyebar melalui beberapa cara, antara lain:

Melalui paparan langsung terhadap hewan yang terinfeksi atau produk hewan yang terkontaminasi.

Melalui paparan terhadap spora Bacillus anthracis yang tersebar di lingkungan, misalnya, di tanah atau bangunan yang terkontaminasi.

Melalui paparan dari produk yang terbuat dari hewan yang terinfeksi, seperti wol, kulit, atau tulang hewan.

 

Gejala

Gejala anthrax dapat bervariasi tergantung pada bentuk infeksi dan tingkat paparan. Gejala biasanya muncul dalam beberapa hari setelah terpapar, tetapi dapat bervariasi antara 1-7 hari. Beberapa gejala umum yang mungkin muncul termasuk:

  • Demam dan menggigil
  • Lemah dan letih
  • Pembengkakan kelenjar getah bening
  • Sesak napas (pada anthrax paru)
  • Mual, muntah, dan diare (pada anthrax usus)
  • Lecet berwarna hitam di kulit (pada anthrax kulit)

 

Diagnosis dan Pengobatan

Diagnosis anthrax didasarkan pada pemeriksaan fisik, riwayat paparan, dan uji laboratorium. Jika dicurigai, sampel darah, kulit, atau cairan tubuh lainnya dapat diambil untuk pengujian lebih lanjut. Pengobatan anthrax melibatkan pemberian antibiotik yang tepat dan segera setelah diagnosis ditegakkan. Pengobatan dini sangat penting untuk meningkatkan peluang kesembuhan, terutama pada bentuk anthrax paru yang sangat mematikan.

 

Pencegahan

Pencegahan anthrax adalah prioritas utama untuk mengurangi risiko penularan. Beberapa langkah yang dapat diambil meliputi:

Vaksinasi:

Bagi mereka yang berisiko tinggi terpapar anthrax, seperti pekerja laboratorium, personel militer, dan peternak, vaksin anthrax dapat menjadi pilihan untuk melindungi dari penyakit ini. Di beberapa negara, vaksin anthrax tersedia untuk kelompok risiko tinggi tersebut

Pengawasan Hewan:

Pencegahan penyakit anthrax pada hewan ternak sangat penting. Program vaksinasi yang ketat dapat membantu mengurangi risiko penularan pada manusia.

Pengolahan Produk Hewan yang Aman:

Penting untuk memastikan daging hewan yang dimasak sudah matang sempurna dan berasal dari sumber yang aman.

Kesadaran Publik:

Meningkatkan kesadaran tentang penyakit anthrax, gejala, dan cara penularannya dapat membantu mencegah penyebaran penyakit ini.

Kewaspadaan:

Hindari kontak langsung dengan hewan liar yang mati dan hindari membeli produk hewan yang tidak jelas asal-usulnya.

 

Kesimpulan

Meskipun anthrax jarang terjadi pada manusia, penyakit ini tetap menjadi perhatian serius karena dampaknya yang dapat berakibat fatal. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang penyebab dan gejala, serta dengan mengambil langkah-langkah pencegahan yang tepat, kita dapat mengurangi risiko penularan dan melindungi kesehatan masyarakat dari ancaman penyakit anthrax

 

Penulis : Bidang SDK (Ags)

 

Kontak Kami

JL. Gondosuli No.6 Yogyakarta Kota Yogyakarta DIY 55231 Indonesia
dinkes@jogjaprov.go.id
+62274563153
(0274)512368

Kunjungan

  • Hari Ini

  • 7.065
  • Bulan Ini

  • 1.728.429
  • Total Kunjungan

  • 21.845.904