Detail Berita


  • 30 Mei 2016
  • 2.259
  • Berita

Workshop Penanganan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED)

Pemerintah berkomitmen untuk mempercepat upaya pencapaian Millennium Development Goals (MDG’s) dengan diterbitkannya Instruksi Presiden (Inpres) No. 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan dan telah telah dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2010-2014.

Bagi Indonesia, meskipun masih perlu melakukan banyak perbaikan, terdapat tidak sedikit pencapaian dari target MDGs yang positif. Laporan MDGs yang dikeluarkan Bappenas menunjukkan sejumlah pencapaian untuk memenuhi target pembangunan milenium. 

Meskipun mengalami perlambatan penurunan, persentase penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan dapat diturunkan dari 15,1% di tahun 1990 menjadi 10,96% di 2014. Prevalensi balita dengan berat badan rendah atau gizi buruk dapat diturunkan dari 31% di tahun 1980 menjadi 19,60% di 2013.

Prof. Tjandra (Dirjen P2PL Kemenkes RI) menyampaikan sebagian besar target proksi indikator Indonesia untuk MDG 5 yang sudah tercapai, akan tetapi mengenai angka kematian Ibu yang sudah turun dari 390/100.000 kelahiran hidup di tahun 1991 menjadi 228 (2007) memang belum mencapai target MDG sebesar 102/100.000. Selain itu, angka kematian bayi juga sudah mengalami penurunan dari 68 di tahun 1991 menjadi 32 di tahun 2012, itupun belum mencapai target MDG sebesar 23.

Tahun 2015 merupakan tahun transisi dari berakhirnya Millennium Development Goals (MDGs). Sidang Umum PBB pada 4 Desember 2014 telah menyetujui platform agenda pembangunan dunia Post-2015 berdasar pada hasil Open Working Group on Sustainable Development Goals (SDGs) yang akan menjadi target dan tujuan pembangunan dunia sampai 2030. Pembahasan awal tentang SDGs muncul pada pertemuan KTT Rio+20 tahun 2012 di mana 192 negara setuju membuat platform SDGs, antara lain mempertimbangkan berbagai aspek seperti action oriented, dapat diimplementasikan, dan bersifat universal.

Untuk mencapai target  Sustainable Developmet Goals (SDGs), masih ada tantangan yang perlu mendapat perhatian khusus yaitu adanya disparitas antar wilayah, antara perkotaan dan perdesaan, masyarakat kaya dan miskin, tingkat pendidikan tinggi dan rendah. Selain hal tersebut masih ada isu terkait penyediaan SDM kesehatan yang mempunyai kompetensi untuk memberikan pelayanan kesehatan, serta pembiayaan dan penganggaran terutama dikaitkan dengan prioritas kebijakan pemerintah daerah pada era desentralisasi.

Desentralisasi yang digulirkan pada tahun 2001 telah merubah peran, tugas dan fungsi berbagai organisasi dan unit kesehatan pada berbagai tingkat. Proses perencanaan dan evaluasi program kesehatan menjadi lebih berbasis pada kebutuhan daerah. Puskesmas sudah lama tidak terakomodasikan oleh regulasi kebijakan, dengan telah keluarnya Permenkes nomor 75 tahun 2014 maka merupakan era baru dalam tugas dan fungsi Puskesmas.

Dalam upaya mempercepat penurunan AKI telah ditempuh berbagai program. Salah satu fokus program diatas adalah penyiapan puskesmas mampu PONED

Pelayanan yang harus dilaksanakanan Puskesmas PONED selain kemampuan memberikan pelayanan langsung terhadap ibu hamil, bersalin, ibu nifas, bayi baru lahir baik yang datang sendiri maupun rujukan dari masyarakat. Bidan di desa serta Puskesmas non PONED diharapkan juga dapat melakukan penanganan kasus komplikasi kebidanan tertentu sesuai kewenangannya atau melakukan rujukan ke rumah sakit PONEK.

Untuk itu diperlukan kesiapan sarana prasarana serta tenaga yang trampil dalam penanganan kegawat daruratan khususnya bagi ibu dan bayi.

Untuk itu perlu adanya penyegaran serta penguatan melalui Workshop PONED yang difokuskan pada penanganan kegawat daruratan khususnya bagi ibu dan bayi/neonatus.

        Dalam rangka mempercepat pencapaian SDGS terutama penurunan AKI maka ditempuh berbagai program antara lain pembentukan Puskesmas Mampu PONED. Dalam rangka pemperkuat Puskesmas Mampu PONED maka salah satunya dilaksanakan Workshop PONED. Workshop ini dilakukan 2 angkatan. Angkatan 1 tanggal 14 sd 17 Maret 2016 dan Angkatan 2 tanggal 9 sd 12 Mei 2016

            Peserta Workshop setiap angkatan diikuti dari 11 Puskesmas. Setiap Puskesmas terdiri dari 1 orang dokter, 1 orang perawat, 1 orang bidan.           
            Tujuan dilakanakan workshop ini adalah setelah selesai mengikuti whorshop ini peserta diharapkan mampu memberikan pelayanan kegawat daruratan khususnya bagi ibu dan bayi/neonatus dalam mendukung PONED secara optimal

Kontak Kami

JL. Gondosuli No.6 Yogyakarta Kota Yogyakarta DIY 55231 Indonesia
dinkes@jogjaprov.go.id
+62274563153
(0274)512368

Kunjungan

  • Hari Ini

  • 412
  • Bulan Ini

  • 1.728.429
  • Total Kunjungan

  • 22.620.347