Detail Artikel


  • 30 Maret 2019
  • 2.644
  • Artikel

Pengelolaan Kanker Paru-Paru

Salah satu organ dari sistem pernafasan manusia yang vital adalah paru-paru atau pulmo. Tersusun atas  jaringan kelenjar (epitel) berupa alveolus-alveolus. Terdiri atas 3 lobus di kanan, dan 2 lobus di kiri.

Di dalam alveoli terjadi proses pertukaran udara, O2 akan diambil dari udara dan CO2 akan dilepaskan ke udara. Bersama udara yang dihirup, ikut terbawa juga jasad renik, senyawa dan bahan-bahan lain, yang diantaranya adalah bahan-bahan karsinogenik. Bahan-bahan karsinogenik ini mempunyai potensial untuk menimbulkan tumor dan bahkan kanker di paru-paru jika terpapar di dalam paru-paru.

 

Istilah kanker tentu sudah banyak dipahami sebagai pertumbuhan sel epitel yang tak terkendali. Apabila hal itu terjadi di jaringan paru-paru, dapat kita asumsikan sebagai kanker paru-paru. Untuk saat ini, patogenesis kanker paru belum benar-benar diketahui. Hipotesis sementara, sel mukosal bronkial mengalami perubahan metaplastik sebagai respon terhadap paparan kronis dari partikel yang terhirup dan melukai paru. Sebagai respon dari luka selular, proses reaksi dan radang akan berevolusi. Sel basal mukosal akan mengalami proliferasi dan terdiferensiasi menjadi sel goblet yang mensekresi mukus. Diprediksikan bahwa aktivitas metaplastik terjadi akibat pergantian lapisan epitelium kolumnar dengan epitelium skuamus, yang disertai dengan atipia selular dan peningkatan aktivitas mitotik yang berkembang menjadi displasia mukosal. Rentang waktu proses ini belum dapat dipastikan, hanya diperkirakan kurang lebih antara 10 hingga 20 tahun.

Catatan WHO memproyeksikan, kanker paru merupakan penyebab kematian utama dalam kelompok kanker baik pada pria maupun wanita. Penderita kanker paru terus meningkat, utamanya pada perokok. Dalam rentang lima tahun terakhir juga muncul tren, perokok perempuan meningkat sehingga risiko terkena kanker paru pada perempuan pun tinggi. Perokok remaja juga mengalami peningkatan. Alhasil, pasien kanker paru pada remaja pun bertendensi terus naik. Pasien kanker paru paling banyak di atas usia 40, Tetapi perokok usia SMP/SMA tendensinya naik. Semakin muda usia penderitanya, kanker paru semakin ganas dan peluang hidupnya kecil.

Melihat informasi diatas, maka merokok merupakan penyebab utama dari sekitar 90% kasus kanker paru-paru pada pria dan sekitar 70% pada wanita. Semakin banyak rokok yang dihisap, semakin besar risiko untuk menderita kanker paru-paru. Hanya sebagian kecil kanker paru-paru (sekitar 10%-15% pada pria dan 5% pada wanita) yang disebabkan oleh zat yang ditemui atau terhirup di tempat bekerja.

Keseharian bekerja dengan asbes, radiasi, arsen, kromat, nikel, klorometil eter, gas mustard dan pancaran oven arang bisa juga menyebabkan kanker paru-paru, meskipun biasanya hanya terjadi pada pekerja yang juga merokok. Peranan polusi udara sebagai penyebab kanker paru-paru masih belum jelas. Beberapa kasus terjadi karena adanya pemaparan oleh gas radon di rumah tangga. Kadang kanker paru (terutama adenokarsinoma dan karsinoma sel alveolar) terjadi pada orang yang paru-parunya telah memiliki jaringan parut karena penyakit paru-paru lainnya, seperti tuberkulosis (TB) dan fibrosis.

Gejala paling umum yang ditemui pada penderita kanker paru adalah, batuk yang terus menerus atau menjadi hebat, dahak berdarah, berubah warna dan makin banyak, napas sesak dan pendek-pendek, sakit kepala, nyeri atau retak tulang dengan sebab yang tidak jelas, kelelahan kronis, kehilangan selera makan atau turunnya berat badan tanpa sebab yang jelas, suara serak/parau, pembengkakan di wajah atau leher, nyeri dada dan mungkin juga dengan demam tinggi. Gejala pada kanker paru umumnya tidak terlalu kentara, sehingga kebanyakan penderita kanker paru yang mencari bantuan medis telah berada dalam stadium lanjut. Kasus-kasus stadium dini/awal sering ditemukan tanpa sengaja ketika seseorang melakukan pemeriksaan kesehatan rutin. Beberapa prosedur yang dapat memudahkan diagnosa kanker paru antara lain adalah foto X-Ray, CT Scan Toraks, Biopsi Jarum Halus, Bronkoskopi, MRI dan PET-Scan.

Pengobatan kanker paru adalah combined modality therapy (multi-modaliti terapi). Kenyataanya pada saat pemilihan terapi, sering bukan hanya diharapkan pada jenis histologis, derajat dan tampilan penderita saja tetapi juga kondisi non-medis seperti fasilititas yang dimiliki rumah sakit dan kondisi ekonomi penderita juga merupakan faktor yang amat menentukan.

Langkah pembedahan diindikasikan untuk kanker paru stadium I dan II. Pembedahan juga merupakan bagian dari combine modality therapy, misalnya kemoterapi neoadjuvan untuk kanker paru stadium IIIA. Indikasi lain untuk dilakukan pembedahan adalah bila ada kegawatan yang memerlukan intervensi bedah, seperti kanker paru dengan sindroma vena kava superiror berat.  Prinsip pembedahan adalah sedapat mungkin tumor direseksi lengkap berikut jaringan kelenjar getah bening (KGB) intrapulmoner, dengan lobektomi maupun pneumonektomi. Segmentektomi atau reseksi baji hanya dikerjakan jika faal paru tidak cukup untuk lobektomi. Tepi sayatan diperiksa dengan potong beku untuk memastikan bahwa batas sayatan bronkus bebas tumor. KGB mediastinum diambil dengan diseksi sistematis, serta diperiksa secara patologi anatomis.

Radioterapi, pada kanker paru dapat menjadi terapi kuratif atau paliatif. Pada terapi kuratif, radioterapi menjadi bagian dari kemoterapi neoadjuvan untuk kanker paru stadium IIIA. Pada kondisi tertentu, radioterapi saja tidak jarang menjadi alternatif terapi kuratif. Radiasi sering merupakan tindakan darurat yang harus dilakukan untuk meringankan keluhan penderita, seperti sindroma vena kava superior, nyeri tulang akibat invasi tumor ke dinding dada dan metastasis tumor di tulang atau otak.

Kemoterapi, dapat diberikan pada semua kasus kanker paru. Syarat utama harus ditentukan jenis histologis tumor dan tampilan (performance status) harus lebih dan 60 menurut skala Karnosfky atau menurut skala WHO. Kemoterapi dilakukan dengan menggunakan beberapa obat antikanker dalam kombinasi regimen kemoterapi. Pada keadaan tertentu, penggunaan 1 jenis obat anti kanker dapat dilakukan. Prinsip pemilihan jenis antikanker dan pemberian sebuah regimen kemoterapi adalah, platinum based therapy ( sisplatin atau karboplatin),  respons obyektif satu obat antikanker sekitar 15%, toksisiti obat tidak melebihi grade 3 skala WHO dan harus dihentikan atau diganti bila setelah pemberian 2 sikius pada penilaian terjadi tumor progresif.

Imunoterapi, ada beberapa cara dan obat yang dapat digunakan, meskipun hingga sekarang, belum ada hasil penelitian yang menyokong dan menyimpulkan manfaatnya. Hal yang sama dialami langkah hormonoterapi dan terapi gen, dapat digunakan tapi belum ada penelitian pendukungnya.

Opsi Pengobatan Paliatif, merupakan pilihan yang ditekankan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup penderita sebaik mungkin. Gejala dan tanda karsinoma bronkogenik dapat dikelompokkan pada gejala bronkopulmoner, ekstrapulmoner intratorasik, ekstratoraksik non metastasis dan ekstratorasik metastasis. Sedangkan keluhan yang sering dijumpai adalah batuk, batuk darah, sesak napas dan nyeri dada. Pengobatan paliatif untuk kanker paru meliputi radioterapi, kemoterapi, medikamentosa, fisioterapi, dan psikososial. Pada beberapa keadaan intervensi bedah, pemasangan stent dan cryotherapy dapat dilakukan.

Memasuki upaya rehabilitasi medik, pada penderita kanker paru dapat terjadi gangguan muskuloskeletal terutama akibat metastasis ke tulang. Manifestasinya dapat berupa infiltrasi ke vertebra atau pendesakan syaraf. Gejala yang tirnbul berupa kesemutan, baal, nyeri dan bahkan dapat terjadi paresis sampai paralisis otot, dengan akibat akhir terjadinya gangguan mobilisasi/ambulasi. Jika penderita kanker paru dinyatakan sembuh dari penyakitnya, maka penderita harus melakukan kontrol kondisi pasca terapi secara rutin, apakah tiap bulan, triwulan, semesteran atau tahunan. Atau juga melihat kondisi jika ada yang mencurigakan kemungkinan keadaan fisik tubuh  diperkirakan berhubungan dengan kanker paru maupun efek terapi sebelumnya, maka harus segera kontrol ke rumah sakit.

 

Kontak Kami

JL. Gondosuli No.6 Yogyakarta Kota Yogyakarta DIY 55231 Indonesia
dinkes@jogjaprov.go.id
+62274563153
(0274)512368

Kunjungan

  • Hari Ini

  • 15.290
  • Bulan Ini

  • 1.728.429
  • Total Kunjungan

  • 20.832.981