Detail Artikel


  • 08 November 2018
  • 6.617
  • Artikel

ANEMIA DAN RISIKO KEK PADA REMAJA PUTRI DI DIY

Kejadian anemia pada remaja saat ini menjadi perhatian bagi pemerintah, mengingat kualitas kesehatan terutama bagi remaja putri menjadi dasar bagi kualitas kesehatan dan pertumbuhan generasi penerus bangsa. Dalam 100 tahun periode kehidupan, bahkan kualitas gen dari nenek akan berpengaruh terhadap janin dari cucu yang akan dilahirkan. Dengan demikian kejadian anemia pada remaja khususnya remaja putri tidak dapat dipandang sebelah mata. Selain itu remaja yang menderita anemia akan berpengaruh terhadap konsentrasi, memori dan performa di sekolah.

Dalam  survey yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan DIY pada tahun 2018 dengan sasaran 1500 remaja putri di 5 Kabupaten dan Kota, menunjukkan bahwa  sebanyak 19,3 % remaja putri mengalami anemia (Hb dibawah 12 g/dl) dan risiko kekurangan energi kronis (KEK) dengan nilai LILA dibawah 23,5 sebanyak 46%.

Survey tersebut tampaknya sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr Toto Sudargo (Universitas Gadjah Mada) yang disampaikan dalam Forum Nasional KIA-KB-Gizi yang diselenggarakan oleh Unversitas Gadjah Mada bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan RI pada tanggal 25 – 27 Oktober 2018 lalu.

Penelitian dengan sasaran sebanyak 187 siswi di salah satu SMK Negeri di Yogyakarta, menunjukkan hasil bahwa prevalensi anemia pada remaja putri sebanyak 12,8 % sedangkan prevalensi KEK sebanyak 49,5%. Sedangkan faktor resiko yang diperoleh dari hasil penelitian adalah masih rendahnya pengetahuan remaja putri mengenai anemia (ditunjukkan dengan nilai skor kuisioner seluruh siswi dibawah 65). Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara hasil pengukuran Lingkar Lengan Atas (LLA) dengan anemia.

Hasil penelitian tersebut perlu menjadi perhatian bagi pemerintah dan masyarakat kita di DIY mengingat ternyata, dapat kita asumsikan bahwa 1 dari 5 remaja putri menderita anemia, dan 1 dari 2 remaja putri berisiko mengalami KEK. Anemia dan risiko KEK tidak hanya berpengaruh bagi kesehatan di usia saat ini tetapi juga memiliki pengaruh pada saat perempuan memasuki usia reproduksi. Calon ibu yang menderita anemia dan KEK berisiko melahirkan bayi dengan berat lahir rendah serta dapat menjadi faktor munculnya penyakit-penyakit metabolik di kemudian hari.

Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah DIY maupun Kabupaten dan Kota telah berupaya keras untuk menangani anemia, salah satunya melalui pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) bagi remaja putri di sekolah. Pemberian TTD dilakukan bekerjasama antara Dinas Kesehatan, Puskesmas dan Sekolah untuk memastikan remaja putri mengkonsumsi TTD 1 kali seminggu. Progress program masih berjalan, dan diharapkan dengan upaya partispasi masyarakat program ini dapat berjalan dengan sukses. Tentunya pada tahap selanjutnya akan dilaksanakan evaluasi bagaimana pemberian TTD dapat memberikan dampak signifikan dalam menangani anemia remaja.

Kontak Kami

JL. Gondosuli No.6 Yogyakarta Kota Yogyakarta DIY 55231 Indonesia
dinkes@jogjaprov.go.id
+62274563153
(0274)512368

Kunjungan

  • Hari Ini

  • 13.883
  • Bulan Ini

  • 1.728.429
  • Total Kunjungan

  • 14.624.419