CEGAH ASMA ANAK SEDINI MUNGKIN

Asma merupakan penyakit kronik tersering pada anak dan masih tetap merupakan masalah bagi pasien, keluarga, dan bahkan para klinisi dan peneliti asma. Mengacu pada data epidemiologi Amerika Serikat pada saat ini diperkirakan terdapat 4-7% (4,8 juta anak) dari seluruh populasi asma. Selain karena jumlahnya yang banyak, pasien asma anak dapat terdiri dari bayi , anak, dan remaja, serta mempunyai permasalahan masing-masing dengan implikasi khusus pada penatalaksanaannya.

 

Pengetahuan dasar tentang masalah sensitisasi alergi dan inflamasi khususnya, telah banyak mengubah sikap kita terhadap pengobatan asma anak, terutama tentang peran anti-inflamasi sebagai salah satu dasar pengobatan asma anak. Oleh karena itu pengertian yang lebih baik tentang peran faktor genetik, sensitisasi dini oleh alergen dan polutan, infeksi virus, serta masalah lingkungan sosioekonomi dan psikologi anak dengan asma diharapkan dapat membawa perbaikan dalam penatalaksanaan asma.

 

Pada masa anak terjadi proses tumbuh- kembang fisis, faal, imunologi, dan perilaku yang memberi peluang sangat besar bagi kita untuk melakukan upaya pencegahan, kontrol, self-management, dan pengobatan asma. Walaupun medikamentosa selalu merupakan unsur penting pengobatan asma anak, harus tetap diingat bahwa hal tersebut hanyalah merupakan salah satu dari berbagai komponen utama penatalaksanaan asma. Penatalaksanaan asma yang baik harus disokong oleh pengertian tentang peran genetik, alergen, polutan, infeksi virus, serta lingkungan sosioekonomi dan psikologis pasien beserta keluarga.

 

Pendidikan dan penjelasan tentang asma pada pasien dan keluarga merupakan unsur penting penatalaksanaan asma pada anak. Perlu penjelasan sederhana tentang proses penyakit, faktor risiko, penghindaran pencetus, manfaat dan cara control lingkungan, cara mengatasi serangan akut, pemakaian

obat dengan benar, serta hal lain yang semuanya bertujuan untuk meminimalkan morbiditas fisis dan

psikis serta mencegah disabilitas.

 

Bila ditangani dengan baik maka pasien asma dapat memperoleh kualitas hidup yang sangat mendekati

anak normal, dengan fungsi paru normal pada usia dewasa kelak walaupun tetap menunjukkan saluran

napas yang hiperresponsif.

 

Upaya pencegahan asma anak mencakup pencegahan dini sensitisasi terhadap alergen sejak masa fetus,

pencegahan manifestasi asma bronkial pada pasien penyakit atopi yang belum menderita asma, serta pencegahan serangan dan eksaserbasi asma.

 

Kontrol lingkungan merupakan upaya pencegahan untuk menghindari pajanan alergen dan polutan, baik

untuk mencegah sensitisasi maupun penghindaran pencetus. Para peneliti umumnya menyatakan bahwa

alergen utama yang harus dihindari adalah tungau debu rumah, kecoak, bulu hewan peliharaan terutama

kucing, spora jamur, dan serbuk sari bunga. Polutan harus dihindari adalah asap tembakau sehingga mutlak dilarang merokok dalam rumah. Polutan yang telah diidentifikasi berhubungan dengan eksaserbasi asma adalah asap kendaraan, kayu bakar, ozon, dan SO2.

 

Penghindaran maksimal harus dilakukan di tempat anak biasa berada, terutama kamar tidur dan tempat

bermain sehari-hari. Untuk Indonesia, walaupun belum ada data yang menyokong, agaknya kita harus

menghindari obat nyamuk dan asap lampu minyak.

 

Berdasarkan pengetahuan dasar tentang proses sensitisasi dan allergic march maka upaya pencegahan

asma dilakukan juga dengan mencegah dan menghambat perjalanan alamiah penyakit alergi. Upaya

tersebut antara lain adalah dengan mencegah timbulnya suatu penyakit alergi (asma) pada anak yang

telah tersensitisasi. Suatu uji klinis multisenter ETAC (early treatment of the atopic child) telah menunjukkan manfaat setirizin untuk menghambat timbulnya asma pada anak kecil penderita dermatitis atopi yang sudah tersensitisasi terhadap alergen tertentu tetapi belum menderita asma.

 

Untuk anak yang sudah menderita asma dilakukan pengobatan pencegahan dan kontrol asma yang bertujuan untuk mencegah kekambuhan, atau menurunkan kekerapan serta derajat serangan asma, dengan pemberian sodium kromolin, ketotifen, inhibitor dan antagonis leukotrien, serta kortikosteroid. Sejauh ini kortikosteroid merupakan antiinflamasi terpilih yang paling efektif untuk pencegahan asma. Pemberian kortikosteroid inhalasi dapat mengontrol asma kronik dengan baik, walaupun pada anak kecil relatif lebih sulit dilakukan sehingga membutuhkan alat bantu inhalasi.

 

Pengobatan asma pada dasarnya bertujuan untuk mendapatkan dan menjaga status aktivitas anak normal

dan faal paru normal, mencegah timbulnya asma kronik, serta mencegah pengaruh buruk tindakan pengobatan. Secara umum obat asma dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu obat pelega (relievers) dan obat pengontrol (controllers).

 

Obat pelega asma bertujuan untuk melegakan saluran napas dan menghilangkan serangan serta eksaserbasi akut dengan pemberian bronkodilator. Bronkodilator yang banyak dipakai saat ini adalah _2-

agonis, selain xantin dan antikolinergik. Obat pengontrol asma bertujuan menjaga dan mengontro asma persisten dengan mencegah kekambuhan. Obat pengontrol asma yang banyak dipergunakan adalah kortikosteroid, selain anti-inflamasi lain seperti sodium kromolin, nedokromil, inhibitor dan antagonis

leukotrien, serta berbagai antihistamin generasi baru.

 

Obat â2 –agonis bermanfaat untuk dipakai sebagai terapi intermiten asma episodik, sebagai tambahan terapi intermiten, atau terapi rutin penunjang anti-inflamasi pada asma relaps berulang atau kronis, sebelum aktifitas fisik untuk menghambat exercise induced asthma, dan untuk penolong asma akut. Obat ini tersedia dalam bentuk oral, atau inhalasi yang efektif dilakukan dengan inhaler dosis terukur, rotohaler, atau nebuliser.

 

Teofilin merupakan preparat metil-xantin yang pada masanya sangat populer untuk terapi rumatan asma kronik ringan, dan sebagai penunjang pengobatan asma kronik berat. Walaupun saat ini masih banyak dipakai, teofilin tidak begitu menarik lagi setelah pengobatan anti-inflamasi untuk asma lebih terfokus kepada kortikosteroid. Selama ini efek anti-inflamasi teofilin memang masih sering dipertanyakan. Selain itu metabolisme teofilin diketahui akan terganggu dalam keadaan demam oleh penyakit tertentu, seperti influenza, atau oleh obat seperti eritromisin, simetidin, dan siprofloksasin. Pada anak, teofilin juga diketahui dapat mempengaruhi prestasi sekolah sehingga tidak dianjurkan untuk diberikan pada anak dengan gangguan psikologis atau gangguan belajar.

 

Obat antikolinergik selain bersifat bronkodilator juga akan mengurangi hipersekresi mukus dan mengatasi iritabilitas reseptor batuk. Obat ini tersedia dalam bentuk inhalasi dan nebulasi, terbukti efektif untuk asma akut bila diberikan bersama b2-agonis. Seperti telah disebutkan maka pengontrol asma merupakan pengobatan yang efektif untuk pencegahan asma dan dipergunakan untuk semua tingkatan asma. Kortikosteroid merupakan obat terpilih dan sangat efektif, baik dalam bentuk parenteral dan oral untuk jangka pendek, maupun bentuk inhalasi yang terutama dicadangkan untuk pemakaian jangka panjang. Sejak mula pertama dipergunakan lebih dari 20 tahun lalu terlihat bahwa kortikosteroid inhalasi jelas

 

Sari Pediatri, Vol. 4, No. 2, September 2002

*cho

Berita Lainya