Detail Artikel


  • 29 Juni 2021
  • 633
  • Artikel

TRACING DALAM PELACAKAN KASUS COVID-19, MENGAPA?

Dalam 30 hari terakhir, Daerah  Istimewa Yogyakarta mengalami peristiwa kasus Covid-19 yang sangat tinggi. Lonjakan kasus ini pernah di alami di wilayah ini pada periode Oktober 2020 dengan puncaknya pada akhir Bulan Januari 2021. Penurunan kasus yang signifikan pada Bulan februari 2021 hingga pertengahan Mei 2021 pada awalnya cukup melegakan semua pihak, namun memasuki akhir Mei 2021 terlihat adanya pergerakan yang setiap harinya terus mengalami peningkatan.

Data Satgas DIY (24/6) memperlihatkan jumlah terkonfirmasi melejit mencapai 791 kasus dalam satu hari dari kondisi 94 kasus dalam sehari pada 15 Mei 2021. Peningkatan pesat dalam beberapa minggu ini, telah menyebabkan jumlah kasus aktif meningkat tajam hingga 7.887 orang (24/6). Kasus aktif adalah kasus terinfeksi yang masih dalam masa inkubasi 0-14 hari. Orang yang masuk dalam krteria kasus aktif dapat menularkan kepada orang lain (infeksius).

Di tengah hiruk pikuk  kampanye 5M dan Kampanye vaksinasi, hal lain yang tidak kalah penting adalah terkait dengan 3T (Tracing, Testing, Treatment). Istilah 3T telah beredar cukup lama. Istilah ini merujuk kepada upaya mencegah persebaran dan memberikan perawatan bagi yang terkonfirmasi positif. 3T ditujukan untuk melacak dan menemukan secepatnya orang-orang yang dimungkinkan terpapar oleh orang yang terkonfirmasi positif (tracing/melacak), secepatnya melakukan pengetesan (testing) dengan swab Antigen maupun dengan swab PCR serta memberikan perawatan (treatment) bagi yang terkonfirmasi.

Penting untuk memahami bagaimana fungsi pelacakan dalam pencegahan Covid-19. Dalam setiap kasus Covid-19 yang ditemukan / terkonfirmasi, harus dapat segera dilakukan tindakan berupa dukungan untuk menjamin bahwa mereka bisa memperoleh akses ke pelayanan kesehatan dan berbagai dukungan sosial yang dibutuhkan. Dukungan dalam bentuk pelayanan pendukung dasar, pelayanan kuratif dan perawatan lain. Bagi seesorang yang terkonfirmasi selanjutnya akan diminta untuk menjalani pelayanan tersebut. Pada saat yang sama, disini sistem harus dapat melihat dan mengupayakan minimalisas kontak antara yang terkonfrmasi dengan orang lain.

Tujuannya adalah untuk mencegah persebaran sehingga ketika ditemukan seseorang terkonfirmasi positif harus dapat segera dilakukan penemuan dari kelompok orang-orang yang terpapar dan dapat memjamin bahwa mereka akan bersedia merubah perilakunya untuk meminimalkan kontak dengan orang lain agar dapat mengurangi risiko dari penularan.

Orang-orang yang memiliki risiko tertular akibat kontak dengan seseorang yang terkonfirmasi idealnya dapat teridentifikasi seluruhnya. Dengan penemuan cepat ini maka dapat segera dihubungkan dengan pelayanan sosial yang mugkin dibutuhkan serta dapat menjamin memperoleh akses ke pelayanan medis dan perawatan lainnya.

Dengan demikian hal terpenting yang perlu diperlukan adalah meminimalkan kemungkinan seseorang yang terkonfirmasi kontak dengan orang lain. Ide dibalik kecepatan dalam pelacakan kontak adalah bahwa kita dapat meminimalkan kontak orang-orang yang positif dengan yang lain, sehingga dapat diminimalisir kemungkinan penularan.

Kecepatan dan ketepatan dalam pelacakaan ini menjadi cara terbaik yang dapat dilakukan dalam rangka meminimalkan persebaran dari penyakit. Mengapa kecepatan menjadi hal yang sangat penting?.

Emily Gurley dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health (https://coronavirus.jhu.edu 25/6) menyampaikan, Seseorang yang terinfeksi akan mengalami masa inkubasi setelah virus masuk ke tubuh. Masa inkubasi ini umumnya terjadi dalam 5 hari. Dalam masa inkubasi 5 hari tersebut periode 1-2 hari pertama adalah perode yang belum masuk kategori infeksius (bisa menularkan). Sehingga periode 1-2 hari ini menjadi waktu emas sebelum mereka menjadi masalah jika tidak dikendalikan.

Jarak waktu ini sangat pendek, oleh karena itu menemukan secepatnya pada seseorang yang terpapar oleh orang yang positif adalah hal yang krusial. Dengan menemukan seseorang yang kontak erat / terpapar secepatnya sebelum dirinya menjadi infeksius akan efektif menghentikan penularan selanjutnya kepada orang lain. Tindakan ini cepat tersebut ditindaklanjut dengan memberlakukan isolasi. Dalam waktu sama juga dilakukan testing untuk melihat status infeksi orang terduga terinfeksi covid-19 tersebut. Dengan mengisolasi dan atau memberlakukan karantina pada orang tersebut maka akan dapat diminimalkan kontak dengan orang lain.

Menghentikan satu saja mata rantai kontak, akan dapat mencegah munculnya kasus-kasus lainnya. Jika satu orang positif Covid-19 dapat menularkan kepada 2 orang misalnya, maka dalam 3 mata rantai penularan akan dapat menginfeksi dengan cepat kepada 14 orang dan ini tentu akan menjadi semakin panjang ketika rantai penularannya tidak tertangani dengan baik. Kondisi ini akan semakin parah jika virus tersebut adalah merupakan varian baru dimana memiliki kecepatan penularan berlipat dari varian virus sebelumnya.  Inilah yang menjadi penyebab situasi Klaster penularan dan lonjakan jumlah kasus yang sangat tinggi dan sangat cepat. Jika kita bisa menghentikan 1 saja dari setiap rantai maka ini akan sangat berdampak besar terhadap pengurangan risiko penularan dan munculnya klaster.

Kecepatan dalam pelacakan kasus sekali lagi menjadi kunci dalam mengalahkan kecepatan penularan. Namun demikian yang jauh lebih penting lagi adalah marilah kita menerapkan disiplin pencegahan dengan 5M yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas. 

Sumber:

  1. Emily Gurley, Coursera, https://coronavirus.jhu.edu download 25/6/2021
  2. Buletin Germas.Cov, Dinkes DIY, 25/6/2021
  3. Pedoman penanganan covid-19, Kemenkes RI


Oleh : M. Agus Priyanto

Kontak Kami

JL. Gondosuli No.6 Yogyakarta Kota Yogyakarta DIY 55231 Indonesia
dinkes@jogjaprov.go.id
+62274563153
(0274)512368

Kunjungan

  • Hari Ini

  • 7.123
  • Bulan Ini

  • 617.886
  • Total Kunjungan

  • 4.114.474