Detail Artikel


  • 26 Oktober 2020
  • 1.067
  • Artikel

Survey Respon Masyarakat Terhadap Covid-19

Kasus Covid-19 pertama dilaporkan di Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020 dan hingga tanggal 23 Juni 2020, tercatat sebanyak 47.897 orang terkonfirmasi positif. DIY mencatat kasus pertama tanggal 15 Maret 2020. Sampai dengan 10 Juni 2020, dilaporkan sebanyak 250 orang telah terkonfirmasi positif. Pemerintah DIY, selanjutnya telah menetapkan masa tanggap darurat pada 20 Maret - 31 Mei 2020, namun mengingat perkembangan situasi, kebijakan tanggap darurat tersebut selanjutnya telah diperpanjang hingga 30 Juni.

Mengamati perkembangan pananganan Covid-19 di DIY, maka secara sederhana dapat dibagi dua fase yaitu fase emergensi dan fase perubahan. Fase emergensi difokuskan kepada pemenuhan sistem pelayanan kesehatan sementara fase perubahan kepada upaya pengendalian sosial terhadap risiko penularan dan pentahapan pengembalian fungsi sosial ekonomi. Memasuki fase kedua ini, telah muncul berbagai wacana salah satunya adalah paradigma New Normal. Dalam perkembanganya, telah terjadi mis-persepsi di komunitas yang menterjemahkan new normal sebagai sebuah kondisi telah normal kembali.

Desakan penerapan new normal dalam lingkup kebijakan juga makin menguat utamanya adalah operasionalisasi tempat dan event ibadah, penggerakan roda perekonomian serta pendidikan. Desakan ini menjadi pertaruhan dalam menetapkan kebijakan dengan berbagai kelebihan dan keterbatasan perhitungan risiko. Kondisi tersebut telah memunculkan kekhawatiran akan terjadinya ledakan gelombang kedua.

Beberapa kasus gelombang kedua, telah terjadi di beberapa negara seperti Iran, Arab Saudi, Turki, USA, Swedia, Israel, dll. Terjadinya gelombang kedua ini, dipengaruhi bukan oleh kondisi virulensi dari Covid-19 atau fasilitas pelayanan kesehatan yang tidak memadai, namun sangat dipengaruhi oleh dinamika perilaku komunitasnya yang tentunya juga dipengaruhi diantaranya oleh kebijakan, media dan kecukupan serta ketepatan informasi.

Memasuki minggu pertama Juni, kasus-kasus konfirmasi positif di DIY masih belum bergerak menjadi lebih baik. Sementara perkembangan kasus di dunia dan Indonesia pada bulan Juni justru mencatatkan sebagai periode rekord tertinggi. Perkembangan di DIY masih sangat sulit ditebak terkait akan dan kapan mulai dapat diketahui arahnya.

Perkembangan ini menyadarkan bahwa diperlukan perubahan dari semula lebih banyak berfokus pada pelayanan kesehatan ke arah penguatan pengendalian dan pencegahan aktif terhadap risiko transmisi di komunitas melalui pendekatan perilaku. Dibutuhkan data dan informasi yang memadai agar dapat menggambarkan basis dan update perilaku dari sisi penerapan, sikap, lingkungan serta pandangan terhadap kebijakan pembatasan sosial.

Dalam konteks gugus tugas bidang kesehatan, mengamati dari waktu ke waktu perkembangan perilaku tersebut akan menjadi penting untuk dievaluasi dan menjadi bahan dalam melakukan perubahan strategi komunikasi, informasi, edukasi maupun dalam kendali yang lebih luas seperti pembatasan sosial. Sementara dari sisi dinamika sosial bisa menjadi sebuah catatan untuk basis referensial dalam upaya perubahan culture kesehatan masyarakat DIY di masa mendatang.

Pengamatan dari waktu ke waktu dapat dilakukan melalui kegiatan pengkajian secara periodik yang dilakukan dengan survey. Sebagai sebuah kajian kohort sederhana yang dilaksanakan dalam jangka pendek selama masa pandemi untuk mengamati perubahan perilaku sebagai dampak dari intervensi penanganan yang dilakukan oleh Gugus Tugas. Dalam setiap periode tersebut dilakukan kajian analisis yang akan menjadi bahan rekomendasi untuk penyusunan protokol kesehatan.

Perilaku dalam hal ini adalah dihubungkan dengan konteks pencegahan penularan. Perilaku adalah protokol kesehatan yang seharusnya dilakukan untuk dapat meminimalisir penularan. Perilaku tersebut meliputi penggunaan masker, sering mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak selama berada di luar rumah. Konteks perilaku ini yang menjadi basis dalam penyusunan berbagai protokol / pedoman new normal.

Prinsip pelaksanaan survey perlu disusun dalam bentuk apllied research yang langsung dapat digunakan untuk perbaikan kebijakan. Mengingat bahwa melakukan survey dengan metode wawancara langsung memiliki risiko besar untuk penularan Covid-19, maka survey dilakukan dengan mekanisme telesurvey, yaitu menggunakan fasilitas internet berupa googleform untuk pengumpulan data adalah menjadi pilihan yang terbaik. Mekanisme ini dipilih agar meminimalisir kontak antar manusia sehingga survey tetap bisa berjalan sekaligus mencegah mata rantai penularan Covid-19.

Bila pembaca ber-KTP DIY dan ingin menyumbangkan pikiran, ide, dan gagasan dalam upaya penanggulangan pandemi Covid-19 di DIY, dipersilahkan agar membuka dan mengisikan survey. Berikan jawaban dengan baik dan benar sesuai apa yang para pembaca ketahui dan saksikan, serta berikan pendapat, ide, dan gagasannya melalui survey ini. Untuk alamat tautan yang bisa diakses adalah di bit.ly/surveycovid19keIII

Kontak Kami

JL. Gondosuli No.6 Yogyakarta Kota Yogyakarta DIY 55231 Indonesia
dinkes@jogjaprov.go.id
+62274563153
(0274)512368

Kunjungan

  • Hari Ini

  • 6.563
  • Bulan Ini

  • 617.886
  • Total Kunjungan

  • 4.113.914