Detail Artikel


  • 14 Mei 2016
  • 961
  • Artikel

PENDIDIKAN DOKTER ITU...

Mendengar berbagai kesemrawutan sistem pendidikan kedokteran di Negeri Zamrut Katulistiwa ini, mengingatkan kita pada "kisah pasta setengah-setengah".

Bayangkan begini. Pada sebuah malam yang dingin diguyur hujan, perut anda tiba-tiba kruwes-kruwes minta diisi. Tak ada pilihan lain, hal paling gampang dilakukan adalah: mengambil sayur dari kulkas, memotongnya jadi dua atau tiga bagian, lalu membuka satu atau dua bungkus mie rebus favorit. Ya, mie rebus adalah penawar udara dingin yang mantab.

Lha kok, sebelum mie rebusnya matang, tiba-tiba selera anda berubah, ingin mie goreng dengan taburan bawang yang kriuk di atasnya. Namun karena anda malas membuang waktu lebih lama untuk memasak ulang, hasilnya mie rebus yang sudah matang beserta bumbunya itu kemudian dipaksa menjadi mie goreng dengan cara yang paling gampang: dibuang kuahnya!

Tapi bukankah bumbunya tetap mie rebus? Lalu bagaimana rasanya? Tentu saja keasinan, Damn! Ya sudah, mau bagaimana lagi, sudah lapar tingkat emergensi?

Lha da lah… belum ada seperempat piring mie goreng gadungan itu habis, selera anda kemudian berubah kembali dengan signifikan. Imajinasi sejawat kini membayangkan seporsi spaghetti dengan luluran saus bolognaise. Maknyuss!

Membuang tiga perempat mie yang masih mengepul dan berselimutkan bawang goreng, lalu menyalakan kembali kompor untuk masak spaghetti, tentu bukan pilihan praktis. Hasilnya, mie rebus yang telah didandani menjadi mie goreng tadi kini berlumuran saus bolognaise.

Celakanya, meski telah tiga kali melakukan perubahan mie yang dipandu oleh nafsu kuliner tadi, pada akhirnya anda tidak jadi meneruskan makan. Apa lacur, mie yang Anda buat itu kini rasanya jadi tidak karuan. Bahkan tambahan ayam bakar sisa tadi sore, serta beberapa butir bakso yang empuk, tidak juga menggugah selera. Dan sekarang anda hanya mampu terduduk di dapur dengan lapar yang makin hebat dan mulut yang mecucu sembari bersungut-sungut:

“Jiiiaaashiiiik!”

Seandainya saja, ya, seandainya saja pikiran anda (lebih tepatnya stake holder pendidikan dokter di negeri ini) tak mudah terbius imajinasi yang serakah tadi, mungkin kini anda masih menikmati semangkuk mie rebus dengan potongan sayur sawi dan butiran bakso yang menggugah selera.

------

Begitulah sistem pendidikan kedokteran kita. Semangat berinovasi memang tinggi, namun tidak diberengi dengan kedisiplinan eksekusi. Belum selesai satu program sudah menerapkan program lain. Belum selesai internship sudah menggembar-gemborkan Dokter Layanan Primer. Dan pada akhirnya, tetap dokter di garda depan yang kena getahnya. (agp 2.0)

Kontak Kami

JL. Gondosuli No.6 Yogyakarta Kota Yogyakarta DIY 55231 Indonesia
dinkes@jogjaprov.go.id
+62274563153
(0274)512368

Kunjungan

  • Hari Ini

  • 16.660
  • Bulan Ini

  • 617.886
  • Total Kunjungan

  • 4.683.831