Detail Artikel


  • 31 Desember 2016
  • 1.070
  • Artikel

Om Telolet Om; tinjauan Psikologis Kesehatan

Om Telolet Om..hayooo, sapa yang di saat ini tidak kenal dengan kalimat ini? Beberapa waktu lalu, media social sangat diramaikan dengan jargon ini. Tak hanya di medsos, di dunia nyata pun aktivitas terkait Om Telolet Om secara merata mewabah di seantero negeri Nusantara ini. Belum terhitung jumlahnya untuk saat ini, namun fenomena ini betul-betul menjadi sesuatu yang dahsyat, menyebar dengan cepatnya, mengalahkan cepatnya penyebaran penyakit apapun.

Om telolet om pada dasarnya merupakan rangkaian dari aktivitas para pengemar bus yang menggemari suara klaksonnya. Entah berawal sejak kapan, namun sepertinya bibit-bibit munculnya hobi ini adalah para remaja di jalur lintas pantura jawa. Mereka secara bergerombol berdiri di pinggir jalan, dan ketika ditemui bus hendak lewat, mereka mengangkat tanggan dan menggoyangkan jemponya. Driver bus yang menanggapi, akan menekan tombol klaksonnya, dan berbunyilah suara klakson bus yang saat ini memiliki nada dan irama yang unik dan menarik. Fenomena yang belum lama heboh, dan masih terasa sampai sekarang, sedikit mengalami perubahan dari versi sebelumnya, dimana yang saat ini, para remaja, anak, dan bahkan orang tua, tak lagi meminta suara klakson bus dengan jempol, melainkan dengan tulisan pada sebuah lembaran kertas besar dengan tulisan “Om Telolet Om”. Untuk hal lainnya, masih sama dengan versi originalnya.

Meledaknya fenomena ini, tak lepas juga dari dukungan tokoh-tokoh terkenal nasional dan internasional, baik musisi maupun pemain bola, yang turut serta meramaikan Om Telolet Om ini. Akhirnya, seperti sebuah kepuasan, para pemburu telolet ini akan tertawa lepas jika sebuah bus melintas dengan membunyikan telolet alias klakson. Sepertinya, fenomena ini mendadak menjadi hiburan rakyat yang murah meriah, dan tren baru menghilangkan stress.

Pakar psikologi anak bernama Ratih Zulhaqqi menyebutkan jika anak-anak mudah tertarik dengan suara-suara dengan nada yang menarik, warna-warna cerah, dan segala sesuatu yang membuat mereka aktif bergerak. Karena alasan inilah fenomena Om Telolet Om ini menjadi hal yang sangat menyenangkan untuk dilakukan. Menurut Ratih, anak-anak yang meminta supir bus untuk membunyikan klaksonnya ini bisa mendapatkan rasa bahagia yang sama layaknya mereka mendapatkan hadiah, jajanan, atau bahkan mainan dari orangtuanya.

Menurut Ratih, sensori proses pada otak anak sebenarnya ada 7 macam. Namun, fenomena Om Telolet Om ini bisa merangsang sensori visual dan auditorinya dan bisa membuat mereka merasakan kebahagiaan.

Meskipun bisa membuat anak-anak merasakan kebahagiaan, Ratih menyoroti faktor keamanan dari anak-anak yang ikut dalam fenomena Om Telolet Om ini. Banyak anak-anak yang bahkan melakukan selfie di pinggir jalan raya atau di depan bus antar kota yang tentu akan sangat membahayakan. Selain itu, karena berada di jalan raya dalam waktu yang lama, anak-anak juga beresiko terpapar polusi udara dan berbagai zat beracun berbahaya yang bisa memicu masalah kesehatan pada saluran pernafasannya.

Apapun itu, diperlukan kebijaksanaan dari masing-masing individu untuk mendapatkan sesuatu yang baik dan terbaik bagi dirinya dan orang lain. Jangan sampai demi sebuah tujuan kesenangan, anda melakukan hal yang berhaya bagi kesehatan dan keselamatan anda. Namun juga berarti kita tidak boleh untuk tertawa bahagia.


Pustaka:

http://www.liputan6.com

http://doktersehat.com

 

 

Kontak Kami

JL. Gondosuli No.6 Yogyakarta Kota Yogyakarta DIY 55231 Indonesia
dinkes@jogjaprov.go.id
+62274563153
(0274)512368

Kunjungan

  • Hari Ini

  • 1.090
  • Bulan Ini

  • 617.886
  • Total Kunjungan

  • 6.181.221