Detail Artikel


  • 30 November 2020
  • 958
  • Artikel

Merawat Luka Dengan Madu

Madu adalah cairan berwarna kuning keemasan yang terasa manis dan kental yang dihasilkan oleh lebah. Cairan ini telah digunakan sebagai obat berabad-abad yang lalu. Bahkan madu dan kasiatnya, secara khusus tertulis di dalam Al Quran dan Al Hadist. Penanganan luka infeksi dengan madu sudah digunakan sejak 2000 tahun sebelum bakteri penyebab infeksi diketahui.

Kini, sejalan dengan perkembangan perawatan luka modern (advenvanced dressing) madu seakan ‘baru’ ditemukan kembali kasiatnya. Sebuah  riset melaporkan bahwa orang-orang yang menggunakan madu untuk mengobati luka dengan cara menaruh madu dalam pembalut luka, memiliki tingkat kesembuhan luka 1/4 kali lebih cepat daripada orang-orang yang hanya memakai metode pengobatan standar biasa. Perawatan luka dengan menggunakan  madu memiliki beberapa keuntungan yaitu murah dan mudah didapatkan di daerah atau dipelosok Indonesia.

Baru-baru ini, dilaporkan bahwa madu memiliki efek inhibitor terhadap 60 jenis bakteri termasuk aerob dan anaerob, gram positif dan gram negatif, anti jamur; aspergillum dan penicilium termasuk bakteri yang resisten terhadap antibiotik. Madu alami umumnya terbuat dari nectar, yaitu cairan manis yang terdapat dimahkota bunga, yang dihisap oleh lebah, yang kemudian dikumpulkan didalam sarangnya, yang kemudian diolah dan menjadi persediaan bahan makanan mereka disarangnya (Purbaya 2007). Madu mengandung kurang dari 18% air, 35% glucose, hormone gonadotropin, lebih dari 3000 kalori per 1 kg nya, mengandung enzim ketalase, asam amino, vitamin A, B Komplek, C, D, E, K, dan mineral.

 

Keunggulan madu sebagai bahan untuk merawat luka karena mengandung berbagai macam zat yang membantu proses penyembuhan luka.

 

Osmotic effect. Madu memiliki osmolaritas yang cukup tinggi untuk menghambat pertumbuhan bakteri. Hal ini diasumsikan bahwa efek osmotic dihasilkan oleh kandungan gula yang tinggi di dalam madu. Madu juga mampu menyembuhkan luka yang terinfeksi staphylococcus aureus dan dengan cepat diubah menjadi steril.

 

Hydrogen Peroksida. Ketika madu telah bercampur dengan cairan luka, hydrogen peroksida dikeluarkan melalui reaksi enzim glucose oxidase. Cairan ini dikeluarkan secara perlahan untuk menyediakan aktifitas antibacterial namun tidak merusak jaringan. Hydrogen peroxide mempunyai efek kurang baik untuk jaringan, namun hydrogen peroxide yang yang terkandung dalam madu adalah berkisar 1 mmol/liter atau 1000 kali lebih rendah dari 3% cairan yang umum dipakai sebagai antiseptik dan masih efektif sebagai antibakterial dan tidak merusak jaringan.

 

Phytochemical Componen. Pada beberapa pengobatan madu dengan katalis untuk mengeluarkan aktivitas hydrogen peroksida, selain itu factor antibacterial nonperoksida juga diidentifikasi. Pada Manuka honey (Leptospermum scoparium) juga telah ditemukan substansi dari aktivias antibakterial non perioksida. Penemuan ini terjadi karena masih banyaknya komponen phytocemical yang tidak teridentifikasi, sehingga penyelidikan terhadap kandungan phytocemical madu akan tetap dilanjutkan.

 

Increased lymphocyte and phagocytic activity. Dalam kultur sel ditemukan adanya proliferasi limposit B dan limposit T pada darah perifer yang distimulasi oleh madu dengan konsentrasi 0,1%; pagosit diaktifkan oleh madu pada konsentrasi 0,1%. Pada konsentrasi 1 % madu juga menstimulasi monocyte dalam kultur sel untuk mengeluarkan cytokine, tumor necrosis factor (TNF)-alpha, interleukin(IL)-1 dan IL-6, dimana mengaktifkan aktifitas respon imun terhadap infeksi.

 

Anti-bacterial potency. Madu dihasilkan dari berbagai sumber sari bunga yang berbeda dan menjadi antimikroba yang asli dan olahan. Madu yang berwarna pucat baik untuk salep mata dan luka. Pada percobaan acak ditemukan pada luka eksisi dan skin graft menjadi baik dengan madu pada pengontrolan infeksi pada pasien luka bakar sedang.

 

Jenis Luka yang Dapat Disembuhkan dengan Madu

Madu yang bisa digunakan untuk penyembuhan luka adalah madu mentah yang belum diproses dengan cara pemanasan, sehingga tidak semua madu yang dijual secara bebas dapat digunakan. Madu yang telah diproses (dipanaskan) maka kasiat antibakterinya akan hilang atau berkurang.

Adapun jenis luka yang dapat disembuhkan dengan madu adalah: ulkus kulit (venous, arteri, diabetik), luka bakar, abrasi kotor misalnya luka akibat kecelakaan, infeksi jamur, donor site skin graft (cangkok kulit) dan luka pembedahan yang mengalami infeksi.

 

Cara Merawat Luka dengan Madu

Secara umum, perawatan luka dengan menggunakan madu adalah sebagai berikut: pastikan luka bersih dari benda asing, cuci luka dengan cairan NaCl atau rendam dengan air hangat, keringkan, oleskan madu pada kulit yang mengalami luka lalu tutup dengan kassa/oleskan madu pada kassa kemudian ditempelkan pada daerah luka, tutup rapat luka dan kassa dengan plester putih (hindari kontak dengan air selama ditutup), ganti balutan setiap satu/dua hari sekali, ulangi perawatan luka sampai luka tampak mengering/mengalami kemajuan.

 

Perawatan luka menggunakan madu sebaiknya dilakukan oleh tenaga kesehatan profesional yang memiliki kemampuan menilai kondisi luka dan merawat luka dengan bahan balutan tertentu (termasuk madu) yang tepat apabila luka mengalami infeksi yang meluas.

 

 

Muchamad Hardoko

Certified Wound Care Clinician

Dimuat di rubrik Husada KR Agustus 2014

Kontak Kami

JL. Gondosuli No.6 Yogyakarta Kota Yogyakarta DIY 55231 Indonesia
dinkes@jogjaprov.go.id
+62274563153
(0274)512368

Kunjungan

  • Hari Ini

  • 6.887
  • Bulan Ini

  • 617.886
  • Total Kunjungan

  • 4.114.238