Detail Artikel


  • 28 Februari 2021
  • 972
  • Artikel

Mengenal Tuberkulosis Kebal Obat

Salah satu penyakit menular tertua di Indonesia adalah Tuberkulosis, yang terpahat pada relief dinding candi Borobudur. Penanganan dan pengendalian penyakit ini sudah dilakukan sejak jaman Hindia Belanda hingga sekarang. Dalam perkembangannya dikenal juga adanya Tuberkulosis kebal obat. Mengamati fakta ini membuat keinginan untuk mengenal lebih jauh Tuberkulosis, terutama Tuberkulosis Resistan Obat (TB RO) atau Tuberkulosis kebal obat.

            Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 67 tahun 2016 tentang Penanggulangan Tuberkulosis menyebutkan definisi Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis (M.Tb) yang dapat menyerang organ paru arau organ tubuh lainnya. Sedangkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 13 tahun 2013 tentang Pedoman Manajemen Terpadu Pengendalian Tuberkulosis Resistan Obat menyebutkan definisi Tuberkulosis Resistan obat adalah keadaan dimana bakteri Mycobacterium tuberculosis sudah tidak dapat lagi dibunuh oleh obat anti tuberkulosis (OAT) standar. Resistansi ini terjadi karena terjadi mutasi spontan pada kromosom bakteri M.Tb. Bakteri M.Tb ini mempunyai karakteristik biologi sebagai bakteri basil tahan asam-alkohol, tahan dingin dan kering, sensitif terhadap panas, sinar matahari dan radiasi UV, membutuhkan oksigen serta kemampuan membelah yang lambat.

            Proporsi bakteri M.Tb yang sudaah mengalami mutasi (wild-type resistant mutants) pada pasien yang belum pernah mendapatkan terapi OAT, sangat sedikit. Pengobatan TB sensitif obat yang tidak adekuat menyebabkan hambatan selektif pada populasi M.Tb sehingga M.Tb sensitif dibunuh. Sementara itu populasi mutan akan bereproduksi dan menyebabkan terjadinya resistansi obat. Kuman bakteri ini ditularkan dari penderita melalui udara (airborne disease).

            Secara global pada tahun 2019, diperkirakan 3,3% dari pasien TB baru dan 17,7% dari pasien TB yang pernah diobati merupakan pasien Tuberkulosis RO. Di Indonesia, estimasi Tuberkulosis RO adalah 2,4% dari seluruh pasien TB baru dan 13% dari pasien TB yang pernah diobati. Total perkiraan insiden kasus Tuberkulosis RO sebesar 24.000 atau 8,8/100.000 penduduk. Sekitar 11.500 pasien Tuberkulosis Rifampisin Resistan (TB RR) yang ditemukan dan dilaporkan. Dari data tersebut sekitar 48% pasien yang memulai

pengobatan pengobatan TB lini kedua dan angka keberhasilan pengobatan sebesar 45%. Ada beberapa faktor yang mendukung terjadinya resistansi obat tuberkulosis ini, yaitu:

  1. Tenaga kesehatan

Tenaga kesehatan dapat ikut berperan menyebabkan terjadinya Tuberkulosis RO karena penegakan diagnosis yang tidak tepat, jika diagnosis sudah tegak TB regimen pengobatannya tidak tepat, edukasi kepada pasien yang tidak efektif, dan lain sebagainya. Hal yang mendasari penyebab tersebut sangat bervariasi antar tenaga kesehatan, sehingga diperlukan kerjasama semua stakeholder yang berkecimpung dalam penanganan Tuberkulosis ini.

  1. Pasien

Faktor pasien juga menyebabkan terjadinya Tuberkulosis RO karena ketidakpatuhan terhadap anjuran dokter dalam menjalani terapi, menghentikan secara sepihak obat yang diberikan sebelum waktu yang ditentukan karena merasa kondisinya sudah membaik, atau adanya gangguan fungsional dalam tubuh pasien tersebut sehingga mengganggu farmakokinetika OAT

  1. Program pengendalian TB

Program pengendalian TB dalam hal ini adalah pemerintah juga dapat menjadi faktor penyebab terjadinya Tuberkulosis RO karena stok logistik OAT yang tidak mencukupi kebutuhan, atau rendahnya kualitas OAT yang disediakan, atau kebijakan pengobatan yang rumit.

            Resistansi terhadap obat anti tuberkulosis tersebut ada beberapa jenis yang dapat mempengaruhi pemilihan regimen pengobatannya. Jenis resistansi terhadap OAT adalah:

  1. Monoresisten, yaitu resistan terhadap satu OAT lini pertama (misal: terhadap isoniazid)
  2. Poliresisten, yaitu resisten terhadap lebih dari satu OAT lini pertama, selain dari kombinasi isoniazid dan rifampisin (misal: resisten isoniazid dan etambutol)
  3. Multidrug resitance, yaitu resisten terhadap isoniazid dan rifampisin, dengan atau tanpa OAT lini pertama lainnya (misal: resisten isoniazid, rifampisin dan etambutol)
  4. Pre-XDR, yaitu resisten terhadap salah satu golongan fluorokuinolon; atau ssalah satu dari OAT injeksi lini kedua
  5. Extensively Drug Resistance (XDR), yaitu TB MDR disertai resisten terhadap salah satu obat golongan flourokuinolon dan salah satu OAT injeksi lini kedua
  6. Resisten Rifampisin, yaitu resisten terhadap rifampisin, dengan atau tanpa resistan terhadap OAT lainnya

Tuberkulosis RO dapat ditegakkan dengan pemeriksaan laboratorium mikrobiologis. Beberapa jenis pemeriksaan mikrobiologi ini juga digunakan sebagai follow-up pengobatan. Jenis pemeriksaan mikrobiologis yang dilakukan adalah:

  1. Pemeriksaan Tes Cepat Molekuler dengan alat Xpert MTB/RIFPemeriksaan mikroskopis BTA
  2. Pemeriksaan biakan
  3. Pemeriksaan Uji Kepekaan secara fenotipik
  4. Pemeriksaan LPA Lini Dua

Pengobatan Tuberkulosis RO harus bisa dimulai dalam waktu 7  hari sejak ditegakkan diagnosis Tuberkulosis RO. Hal ini masih menjadi hambatan dalam manajemen penanggulangan Tuberkulosis RO, karena banyak faktor yang menyebabkan pengobatan baru dapat dilakukan lebih dari 7 hari. Padahal, semakin lama onset pengobatan pasien Tuberkulosis RO dapat menyebakan prognosis pengobatan yang lebih jelek, selain kemungkinan penyebaran bakteri ke lingkungan lebih rentan. Pengobatan pasien Tuberkulosis RO dimulai dengan pemeriksaan baseline untuk menilai kesiapan organ tubuh pasien menerima regimen pengobatan. kemudian dilanjutkan dengan tahap inisiasi yang dapat dilakukan secara ambulatory atau rawat inap (tergantung kesiapan pasien dan fasilitas layanan kesehatan). Sesuai dengan rekomendasi WHO tahun 2020 saat ini regimen pengobatan pasien Tuberkulosis RO di Indonesia menggunakan all oral regimen (paduan obat tanpa injeksi), yang terbagi menjadi paduan jangka pendek (9-11 bulan) dan paduan jangka panjang (18-20 bulan). Selama pengobatan ini, pasien akan dipantau setiap bulan hingga diperoleh hasil konversi.

Jika pasien sudah menyelesaikan tahapan pengobatannya (sembuh atau lengkap) masih diperlukan pemantauan evaluasi secara berkala setiap 6 bulan sekali selama 2 tahun paska dinyatakan sembuh atau lengkap. Peran penting yang harus dilakukan untuk kesuksesan pengobatan pasien Tuberkulosis RO adalah dukungan semua pihak dari Rumah Sakit layanan Tuberkulosis RO, Puskesmas satelit, keluarga, kader masyarakat. Selain itu adalah semangat dan keinginan dari pasien untuk sembuh. Karena Tuberkulosis Resisten Obat adalah penyakit menular yang dapat disembuhkan dengan pengobatan yang sesuai. Tuberkulosis RO bukan penyakit memalukan apalagi penyakit karena ‘guna-guna ilmu hitam’. (Henny Cloridina, dr., Apt., MH)

 

Kontak Kami

JL. Gondosuli No.6 Yogyakarta Kota Yogyakarta DIY 55231 Indonesia
dinkes@jogjaprov.go.id
+62274563153
(0274)512368

Kunjungan

  • Hari Ini

  • 6.298
  • Bulan Ini

  • 617.886
  • Total Kunjungan

  • 4.113.649