Detail Artikel


  • 22 April 2016
  • 990
  • Artikel

Ubah Nilai Hoax; Jadikan Sarana Promkes

Informasi, saat ini sudah bagaikan makanan pokok yang kebutuhannya selalu muncul setiap saat. Munculnya situs - situs yang menyajikan berita yang beragam, persaingan media sosial yang yang begitu ketat dan berkembangnya aplikasi - aplikasi chat smarphone seolah menjadi alat pengantar informasi kepada penggunanya setiap harinya. Walhasil, berita yang diterima sudah tak terfilter lagi, sementara kebutuhan akan informasi sudah semakin tinggi sehingga perlu referensi yang terercaya dan dapat dipertanggungjawabkan.

Singkat cerita, seiring perkembangan teknologi informasi saat ini, sangat sering muncul pesan berantai, atau broadcast yang menjalar dari alat komunikasi satu ke alat komunikasi lain. Permasalahan baru pun muncul, karena akan menimbulkan suatu keresahan pada masyarakat, padahal belum tentu hal itu benar. Semakin sulit bagi masyarakat untuk membedakan, apakah yang diberitakan itu benar atau tidak. Akan lebih mengkhawatirkan bagi masyarakat, apabila informasi simpang siur ini terkait kesehatan…hmmm…

Dari Pantauan Sie P2 Dinas Kesehatan DIY, saat ini ditemukan setidaknya 40 berita yang tidak benar yang biasa disebut Hoax, beredar melalui berbagai alat komunikasi, pesan berantai khususnya. Uniknya, terkadang justru hal-hal yang tidak benar seperti ini, lebih cepat menyebar ke masyarakat. Keunikan ini lah yang kemudian menimbulkan keresahan.

Sudah pasti ini merupakan dampak negatif, keresahan. Tetapi dari sekian banyak penekanan dampak negatif, terbeslit suatu dampak positif dari beredarnya hoax ini. Apa itu? Mungkin tak tertebak oleh kita, yaitu bahwa semakin banyak orang mencari informasi mengenai apa yang diberitakan, dan tak sedikit pula hal ini meningkatkan ketertarikan seseorang pada dunia kesehatan.

Seperti dikutip dari beberapa situs yang menampilkan berita-berita hoax, muncul banyak tanggapan, dan mayoritas tangggapan berupa pertanyaan penegasan. Seolah masyarakat bersaing memberikan komentar berupa pernyataan yang menentang apa yang di-hoax-kan tersebut. Walaupun masyarakat yang berkomentar itu bukan seorang medis atau pelaku dalam dunia kesehatan, namun dalam penyampaian upaya penentangan terhadap hoax itu, sudah didahului oleh mencari kebenaran tentang apa yang tertulis di hoax tersebut.

Sebagai contoh, cobalah anda browsing dengan google terkait pengecekan kesehatan ginjal dengan mengkonsumsi jengkol. Berita-berita terkait tema tersebut yang tampil di Google, akan nyaris seimbang antara web yang menampilkan hoax itu sebagai berita dan web yang mengkonfimasi kebenaran hoax tersebut. Bahkan untuk kata kunci hoax lain, web yang menampilkan informasi yang benar terkait hoax itu lebih banyak dibandingkan dengan website yang menampilkan hoax.

Hal yang sama terjadi dengan komentar-komentar atau tanggapan yang muncul dalam situs website yang menampilkan hoax. Akan muncul banyak protestan-protestan yang menentang isi dari sesuatu yang di-hoax-kan dalam website tersebut. Berbeda dengan website yang menampilkan berita-berita yang benar, alias non-hoax, justru komentar yang muncul adalah komentar bersifat pertanyaan untuk mengajak diskusi.

Pengamatan sederhana juga pernah dilakukan oleh penulis. Ketika baru saja ada hoax melalui pesan berantai via aplikasi messenger Whatsapp, dan dirasa merupakan hal baru, penulis langsung mencari info kebenaran terkait hoax itu dan mempostingnya di akun pribadi, baik Facebook, Blog, dan melalui akun di sebuah website Koran online. Apa yang terjadi? Taraaaaaaa…secara singkat rating berita tersebut naik drastis..semoga bukan kebetulan saja…

Kontak Kami

JL. Gondosuli No.6 Yogyakarta Kota Yogyakarta DIY 55231 Indonesia
dinkes@jogjaprov.go.id
+62274563153
(0274)512368

Kunjungan

  • Hari Ini

  • 234
  • Bulan Ini

  • 617.886
  • Total Kunjungan

  • 4.684.148