Detail Artikel


  • 29 Desember 2016
  • 1.559
  • Artikel

Mengenali Resiko Kesehatan Bersepedamotor

Mengenali Resiko Kesehatan Bersepedamotor

Peredaran sepeda motor di Indonesia sangat sulit untuk dihitung. Bahkan bisa dibilang tak terhingga. Memang menurut Asosiasi Industri Sepedamotor Indonesia (AISI) jumlah sepeda motor di Indonesia adalah 250 juta, tetapi bisa dimungkinkan angka sesungguhnya jauh di atas angka itu mengingat banyak juga sepeda motor yang tercipta tanpa dilengkapi dengan ijin, atau sepeda motor yang masuk ke Indonesia tanpa terdaftar.  

Mengendarai motor memang memiliki sebuah keasyikan tersendiri. Selain bisa lincah pada jalan yang selebar 1 meter saja, mengendarai motor juga bisa lebih bebas berekspresi. Satu hal lagi yang membuat mengendarai motor terkadang terasa lebih asyik yaitu lebih hemat pengeluaran dan praktis serta cepat sampai tujuan. Apalagi di Indonesia, dengan berbagai keruwetan dan kemacetan di jalanan, sepertinya sepeda motor adalah solusi yang paling terjangkau untuk digunakan untuk mencapai tujuan dengan efektif dan efisien.

Sebenarnya awal mula diciptakan mode trasportasi sepeda motor bertujuan untuk mendukung mobilitas jarak pendek manusia. Semisal untuk ke toko yang hanya depan kompleks perumahan, atau ke salon yang ada di desa sebelah. Tetapi seiring perkembangan jaman, motor saat ini banyak dipergunakan untuk perjalanan jauh. Bahkan dari produsen sepeda motor pun turut memfasilitasi penggunaan sepeda motor untuk menempuh perjalanan jauh, salah satunya dengan mengeluarkan sepeda motor sport dengan cc besar dan mampu melaju dengan kecepatan tinggi yang diimbangi dengan stabilitas tinggi.

Mengingat kelebihan sepeda motor di banding moda yang lain, wajar jika banyak orang lebih sering dan suka menggunakan kendaraan sepeda motor. Ada juga beberapa orang yang membentuk sejenis kelompok premotor atau akrab disebut club motor sebagai sarana berbagi rekreasi dengan melakukan touring-touring kota. Oleh khalayak umum, saat ini pengguna sepeda motor lebih akrab disapa dengan “Bikers”. Tetapi jangan salah, walaupun sangat nyaman untuk menaklukkan jalan sempit, mengendarai sepeda motor sebenarnya sangat rawan bagi kesehatan. Dengan kata lain, mengendarai sepeda motor berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan. Apa saja gangguan kesehatan yang mungkin bisa ditimbulkan, bisa dibaca pada paragraph-paragraf di bawah ini.

Kepala adalah aset sangat berharga pada tubuh kita. Tanpa helm yang memadai, naik sepeda motor rentan menyebabkan kecelakaan pada kepala. Kecelakaan yang menimpa kepala tentu saja sangat berbahaya. Mungkin saja benturan pada kepala ini bisa menimbulkan komplikasi, seperti kehilangan fungsi motorik atau menurunnya fungsi kognitif. Oleh karena itu, meskipun hanya naik sepeda motor dalam jarak dekat, helm tetap diperlukan. Tanpa perlindungan helm yang memadai membuat biker rentan terkena tinitus. Ini adalah gangguan berupa telinga berdenging. Peneliti membuktikan, tinitus ini bisa terjadi pada orang-orang yang mengendarai sepeda motor dalam jarak jauh dan terus-menerus tanpa pelindung yang memadai. Jika tak diatasi, pengendara motor bisa merasa tidak nyaman dan frustrasi karena telinga terus berdenging. Mereka bisa kehilangan pendengaran.

Menempuh perjalanan jauh dengan sepeda motor juga rentan nyeri kronis atau kram di pinggul, punggung, lutut, dan bahu. Caranya bisa dengan berjalan-jalan sejenak atau memutar bahu ke depan dan ke belakang.

Terlalu banyak terpapar angin kencang tanpa dilindungi jaket memadai dengan mudah membuat tubuh jadi tidak fit. Padahal, berkendara sepeda motor yang aman butuh tubuh fit dan konsentrasi baik. Oleh karena itu, selain helm, tubuh juga wajib dilindungi dengan sarung tangan dan jaket tebal. "Itu karena tubuh kita tidak akan kuat terpaan angin kencang saat melaju sepeda motor. Apalagi naik motor jarak jauh, pasti ada pengaruh gangguan kesehatan ke tubuh kita jika tidak pakai jaket tebal," kata Bambang Wispriono, Ph.D, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat UI.

Risiko selanjutnya yang mengincar biker adalah paparan polusi. "Para biker yang setiap hari pergi pulang jarak jauh rentan terpapar partikel kimia hasil buangan kendaraan bermotor," ungkap ahli toksikologi lingkungan ini. Udara kota-kota besar penuh dengan gas buangan yang berbahaya untuk kesehatan. Termasuk di antaranya S02, N02, dan C02. Paparan gas buangan itu, jika berlebihan, menurut Bambang, bisa memberi efek pusing, kekurangan oksigen, dan mual.

Dalam jangka panjang, paparan gas buangan itu dalam konsentrasi tinggi bisa bersifat karsinogenik alias menimbulkan kanker. "Itu karena itu, selain biker, polisi lalu lintas dan petugas DLLAJR yang lama berada di tepi jalan raya harus melindungi saluran napasnya dengan baik. Mereka harus memakai masker yang memadai," imbuhnya.

Tingkat polusi di sekitarnya tidak boleh dipandang remeh. Sebab, menurut Bambang, tingkat polusinya sudah lebih hebat dibandingkan dengan India dan China. Polusi yang parah ini harusnya dikurangi dengan regulasi yang benar. "Misalnya dengan pengaturan kendaraan bermotor agar usianya tidak lebih dari lima tahun. Kendaraan yang berumur di atas lima tahun, apalagi yang tidak terawat dengan baik, mengeluarkan gas emisi yang jauh lebih berbahaya terhadap kesehatan," katanya.

Hal yang terjadi saat ini adalah jumlah kendaraan bermotor semakin banyak dan segala jenis kendaraan yang diproduksi dalam berbagai tahun memenuhi jalan raya dengan leluasa. Oleh karena itu, pengguna jalan raya wajib meningkatkan daya tahan tubuhnya.



Kontak Kami

JL. Gondosuli No.6 Yogyakarta Kota Yogyakarta DIY 55231 Indonesia
dinkes@jogjaprov.go.id
+62274563153
(0274)512368

Kunjungan

  • Hari Ini

  • 1.272
  • Bulan Ini

  • 617.886
  • Total Kunjungan

  • 6.181.403