Detail Artikel


  • 10 Oktober 2016
  • 1.025
  • Artikel

10-10, angka cantik untuk kesehatan jiwa

Tanggal 10 Oktober, suatu kombinasi yang bagus sepertinya kalau diterjemhkan dalam angka, 10-10. Bagi penggemar bola, bisa berasumsi skor gol yang tercipta dalam pertandingan Arsenal vs Chelsea. Bagi penggemar retas-meretas program, bisa jadi merupakan kode pemrograman. Lalu bagaimana bagi dunia kesehatan?

Badan Kesehatan Dunia, alias WHO, telah menetapkan tanggal 10 Oktober sebagai hari kesehatan jiwa sedunia. Pada tahun 2016 ini, peringatan hari Kesehatan Jiwa sedunia jatuh pada hari senin, 10 oktober 2016.  Mengambil tema Martabat dalam Kesehatan Jiwa: Pertolongan Pertama Psikologis dan Kesehatan Jiwa Bagi Semua dengan sub tema Jiwa yang Sehat Berawal dari Keluarga Sehat; maka pesan utama yang ingin disampaikan adalah bahwa setiap orang memiliki hak untuk dihargai dan mendapatkan perlakuan layak sesuai dengan harkat dan martabat sebagai manusia. Adapun bentuk nyata perwujudan terhadap hak tersebut tercermin dari sejak kecil berupa dukungan psikologis yang diberikan keluarga kepada setiap anggota keluarganya. Lebih jauh lagi, pesan ini juga berarti bahwa penghargaan terhadap hak-hak manusia juga secara perlahan harus mampu menghapus diskriminasi dan stigma terhadap anggota keluarga atau siapapun yang memiliki gangguan jiwa; sehingga mereka dapat tetap dapat dihargai selayaknya manusia bermartabat yang perlu dibantu untuk mendapatkan kembali kehidupan yang berkualitas.

Kesehatan jiwa masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang signifikan di dunia, termasuk di Indonesia. Menurut data WHO (2016), terdapat sekitar 35 juta orang terkena depresi, 60 juta orang terkena bipolar, 21 juta terkena skizofrenia, serta 47,5 juta terkena dimensia. Di Indonesia, dengan berbagai faktor biologis, psikologis dan sosial dengan keanekaragaman penduduk; maka jumlah kasus gangguan jiwa terus bertambah yang berdampak pada penambahan beban negara dan penurunan produktivitas manusia untuk jangka panjang. Di DIY sendiri, permasalahan gangguan jiwa juga menjadi permasalahan yang tidak bisa diabaikan, karena DIY menduduki tertinggi kasus ODGJ (orang dengan gangguan jiwa) disbanding dengan provinsi lainnya.

Lalu, apa yang dapat kita lakukan sebagai peran serta menyeselaikan permasalahan ini?

1.      Jangan dikucilkan karena justru bisa membuat penyakit mereka bertambah parah.

2.      Penderita harus diberi motivasi, dirangkul dan jangan dikasih beban mental yang terlalu berat.

3.      Sebaiknya masyarakat meriksakan kesehatan jiwanya minimal sekali dalam satu tahun sebagai langkah preventif atau pencegahan awal.

4.      Bagi penderita gangguan jiwa akut yang sudah membaik dan boleh di rawat di rumah, sebaiknya tetap butuh pendampingan yang terus menerus sampai pasien benar-benar kuat. Dukungan dari keluarga dan masyarakat (lingkungan sekitar) sangat dibutuhkan agar pasien bisa menjalani proses penyembuhannya secara total.

5.      Bagi pasien-pasien yang sudah dipulangkan ke rumah sebaiknya tetap dilanjutkan dengan perawatan lanjutan di Puskesmas.

Sebagai penutup tulisan ini, sedikit pesan untuk pembaca. Ayo jadikan 10-10 bukan hanya sebagai angka manis, tapi jadikan angka kesempurnaan untuk kesehatan.

http://www.depkes.go.id

http://salamsatudata.com

Kontak Kami

JL. Gondosuli No.6 Yogyakarta Kota Yogyakarta DIY 55231 Indonesia
dinkes@jogjaprov.go.id
+62274563153
(0274)512368

Kunjungan

  • Hari Ini

  • 1.350
  • Bulan Ini

  • 617.886
  • Total Kunjungan

  • 6.181.481